fbpx
Atilah Soeryadjaya

Atilah Soeryadjaya

Bandoro Raden Ayu Atilah Soeryadjaya,  lahir 28 April 1961, adalah seorang produser teater, sutradara, penari, pebisnis dan sosialita Indonesia yang karirnya membentang sejak 2010. Dia adalah wanita bangsawan Jawa melalui kakeknya, seorang raja Jawa yang berbasis di Surakarta, Mangkunegara VII. Dia menikah dengan taipan bisnis, Edward Soeryadjaya, putra dari pendiri Astra International, William Soeryadjaya.

Ketika dia membaca berita Singapura yang dijuluki rumah leluhurnya, Solo, sebagai surga bagi terorisme Islam. Surakarta, setelah pemimpin teroris Noordin Mohammad Top telah terbunuh di tempat persembunyiannya di kota pada tahun 2009, eliau bertekad untuk mengembalikan citra kampung halamannya. Dia kemudian memutuskan untuk mementaskan drama sendratari Jawa, Matah Ati, menunjukkannya ke seluruh dunia sebagai gambar sejati Solo dan mengadakan pertunjukan di Singapura, di mana itu dapat menarik lebih banyak penonton global. Matah Ati dipentaskan di Esplanade, gedung konser Singapura dari 22 hingga 23 Oktober 2010, dan sukses di Singapura.

Ide Matah Ati, muncul setelah dia menyaksikan pementasan drama musikal Miss Saigon di teater yang sama. Dia segera kembali ke Solo dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya, mengangkat budaya Indonesia di panggung bergengsi itu. Dalam persiapan untuk Matah Ati, ia bergabung dengan penari, koreografer dan musisi istana untuk bekerja berjam-jam dengan timnya di Surakarta, menggabungkan kontemporer dengan tari dan musik klasik Jawa, dengan bantuan teknologi modern. Matah Ati bercerita tentang kehidupan Rubiah, yang menjadi Raden Ayu Kusuma Matah Ati setelah mengikat simpul dengan raja Mangkunegaran pertama Raden Mas Said, dan menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan Jawa yang kuat. Rubiah adalah pemimpin dari 40 kelompok pejuang wanita Jawa yang kuat. –

Satu tahun kemudian, pada tahun 2013, drama kolosal Atilah Soeryadjaja dipentaskan di Monumen Nasional, tepat pada waktunya untuk merayakan ulang tahun Jakarta yang ke 486. Drama yang berjudul Ariah, tidak direncanakan untuk menjadi produksi keduanya setelah epik Jawa yang sukses bermain Matah Ati. Ariah akan melibatkan setidaknya 300 penari dan musisi, tampil di panggung seluas 3.456 meter persegi yang terdiri dari tiga ketinggian yang berbeda dari 3, 7 dan 10 meter.

Leave a Reply

Your email address will not be published.