fbpx
Bahasa Indonesia, Bergerak Bersama Zaman

Bahasa Indonesia, Bergerak Bersama Zaman

Salah satu elemen dalam ikrar Sumpah Pemuda yang dicetuskan hari ini, 28 Oktober tepat 92 tahun yang lalu dalam Kongres Pemuda II di Jakarta adalah bahasa Indonesia yang dijunjung tinggi sebagai bahasa persatuan.

Selama hampir satu abad setelah diputuskan sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia telah mengalami perubahan-perubahan, tumbuh dan beradaptasi bersesuaian dengan kehendak dan kebutuhan pemakainya dari masa ke masa.

Dalam semangat peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kultural.id melakukan wawancara singkat menukil perihal bahasa Indonesia dengan penulis dan pegiat budaya Linda Christanty.

Bahasa Indonesia tidak hanya menyatukan wilayah-wilayah penuturnya. Ia juga menempatkan kita semua setara, karena tidak memiliki pemisahan kata untuk menunjukkan perbedaan status sosial ataupun kelas – Linda Christanty

Dalam pandangan Linda Christanty, bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih terus tumbuh.

“Ia lahir dari imajinasi para pendahulu kita, bersamaan dengan imajinasi tentang bangsa dan Tanah Air. Ia istimewa, karena dalam dirinya terangkum nilai-nilai pembebasan, sejarah sebuah negeri, jejak politik kekuasaan, ekspresi keberagaman, dan pengalaman tiap individu.” Demikian terang penulis yang telah meraih beragam penghargaan sastra baik di dalam maupun di luar negeri tersebut.

“Sejatinya, bahasa Indonesia lentur dan  dinamis karena berakar dari bahasa Melayu, sebuah lingua franca yang pada masa pra-Indonesia telah digunakan dalam komunikasi perdagangan antarpulau, antarnegeri dan, bahkan antarbangsa.”

Linda Christanty memaparkan bahwa selama masih digunakan oleh penuturnya, bahasa Indonesia akan terus mengalami perubahan, mengikuti pasang surut dan pergerakan dalam kehidupan penggunanya.

“Karena sifatnya yang terus tumbuh, ia ada selama ia digunakan, secara lisan maupun tertulis. Asupan gizi untuk pertumbuhannya tidak lepas dari dinamika masyarakat penuturnya. Perkembangan teknologi hingga hal-hal keseharian berkontribusi terhadap penciptaan dan perluasan kosakatanya.  Serapan kata dari bahasa-bahasa daerah memperkayanya, begitu pula bahasa-bahasa asing,” papar tokoh sastra yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa tersebut.

Selain itu, bahasa Indonesia adalah sebuah bahasa yang demokratis dan egaliter. Karena itulah bahasa Indonesia mampu untuk terus menjalankan perannya sebagai medium penyampai pikiran yang tetap relevan sampai hari ini.

“Bahasa Indonesia tidak hanya menyatukan wilayah-wilayah penuturnya. Ia juga menempatkan kita semua setara, karena tidak memiliki pemisahan kata untuk menunjukkan perbedaan status sosial ataupun kelas,” demikian pungkas Linda Christanty.

 

Simak juga wawancara Kultural.id dengan Hasan Aspahani dan Niduparas Erlang

2 thoughts on “Bahasa Indonesia, Bergerak Bersama Zaman
  1. Tugas Pemakai Bahasa adalah Memuliakan Bahasa – Kultural.id

    […] juga wawancara Kultural.id dengan Linda Christanty dan Niduparas […]

    28/10/2020 Reply
  2. Niduparas Erlang: Bahasa Daerah Semakin Terpinggirkan – Kultural.id

    […] juga wawancara Kultural.id dengan Linda Christanty dan Hasan […]

    28/10/2020 Reply
Leave a Reply

Your email address will not be published.