fbpx
Indonesian Heritage Society, Jembatan Budaya Indonesia untuk Warga Dunia

Indonesian Heritage Society, Jembatan Budaya Indonesia untuk Warga Dunia

Khasanah kekayaan budaya Indonesia amat luas dan beraneka ragam, bagi seseorang yang sama sekali asing dengan ihwal kebudayaan Indonesia, langkah-langkah  perkenalan dan pemahaman di tahap awal mungkin tidak akan begitu mudah jika tidak ada pihak yang membantu dan mengarahkan.

Bagi pihak-pihak yang memiliki ketertarikan untuk mengenal lebih dekat dan memahami lebih dalam perihal kebudayaan dan tradisi Indonesia, ada organisasi-organisasi yang mengkhususkan diri untuk memberikan pendampingan dan berbagi pengetahuan.

Salah satu organisasi yang paling lama berkiprah dalam hal ini adalah Indonesian Heritage Society (IHS). Organisasi nirlaba ini telah aktif sejak tahun 1970 dalam mendorong pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi terhadap warisan kebudayaan Indonesia.

Presiden IHS, Anya Robertson menceritakan, proses kelahiran IHS tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Museum Nasional Indonesia.

“IHS lahir di Museum Nasional, dimulai dari pertemuan antara sepasang suami istri Indonesia, bapak Zainal Abidin dan ibu Rukmini, dengan kelompok relawan istri diplomat yang menerjemahkan koleksi keramik di Museum Nasional. Dari pertemuan ini, lahirlah Ganesha Society yang kelak di tahun 1994 dibentuk menjadi Indonesian Heritage Society,” papar Anya Robertson.

Selain pasangan Zainal Abidin dan Rukmini dari Ganesha Society dan Ganesha Volunteers, pelopor-pelopor lain dari organisasi ini antara lain adalah Anak Agung Gde Agung, Wiwoho Basuki, Kartini Basuki, Dr. Nafsiah Mboi, Hilde Aride, dan Juliana Roe. Mereka membantu membangun hubungan dengan museum-museum dan institusi-institusi lain di Jakarta.

Presiden Indonesian Heritage Society Anya Robertson. Foto: IHS

Dengan pengalaman lebih dari lima puluh tahun, komunitas relawan yang dibangun IHS sudah berkembang dan pernah mencapai jumlah 800 orang yang berasal dari 40 negara.

“Persentase jumlah relawan ini berubah dari tahun ke tahun. Paling banyak, relawan berasal dari Indonesia, lalu Jepang, Australia, Italia, Prancis, Korea, dan lainnya.”

Menurut Anya Robertson, keberadaan IHS penting dalam mendorong pemahaman, pengetahuan, dan apresisasi terhadap warisan kebudayaan Indonesia. Sebagai wadah pembelajaran, promosi, dan apresiasi secara lokal dan global.

“Kami mendorong generasi muda Indonesia untuk aktif sebagai pelopor, berperan dalam program-program IHS, bekerja sama dengan rekan-rekan dari negara lain. Sebaliknya, relawan warga negara asing yang kembali ke negara mereka menjadi duta-duta kebudayaan Indonesia di negerinya.”

Kelompok Studi Tekstil Indonesian Heritage Society. Foto: IHS

Kunjungan Museum Indonesian Heritage Society. Foto: IHS

Sejauh ini, kegiatan-kegiatan IHS telah berkembang pesat. Dukungan relawan di Museum Nasional sebagai pemandu dalam sedikitnya 10 bahasa, konservasi tekstil dan penelitian, dan mendukung museum-museum lain di Jakarta.

Selain itu, IHS juga menjalin kerjasama dengan universitas-universitas baik di dalam maupun di luar negeri, menerjemahkan dokumen, penelitian, publikasi, melaksanakan diskusi dan presentasi secara berkala setiap bulan, eksplorasi kota Jakarta, study tour ke pelosok-pelosok Indonesia, membentuk kelompok membaca karya-karya penulis Indonesia, dan sederet kegiatan lainnya.

Chinese Section Workshop Indonesian Heritage Society. Foto: IHS

French Section Workshop Indonesian Heritage Society. Foto: IHS

Sebagai sebuah organisasi yang dikelola secara mandiri, IHS mengedepankan kolaborasi dengan instansi-instansi yang memiliki misi yang sama, mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan mempromosikan, mengembangkan, dan melestarikan budaya Indonesia.

Sebagaimana lembaga-lembaga dan komunitas lainnya, pandemi memberikan dampak yang besar pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan IHS. Pertemuan-pertemuan langsung dan kunjungan-kunjungan tidak bisa dilakukan seleluasa sebelumnya.

Program-program dilaksanakan dengan memanfaatkan ruang-ruang virtual. Setiap minggu, IHS menggelar webinar yang juga berkolaborasi dengan yayasan dan institusi lain. Misalnya IHS menjalankan program untuk membantu pengrajin yang tinggal di pelosok Indonesia dan tidak bisa memasarkan karya mereka di masa pandemi.

“Kami membantu mempromosikan lewat webinar dan diskusi. Di samping itu, kami juga mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengundang pembicara-pembicara ahli tentang Indonesia, baik dari pulau-pulau lain maupun dari luar negeri.”

Anya Robertson berharap IHS dapat terus berkembang secara lokal dan global.

“Dalam masa pandemi ini, komunitas bisa mempromosikan Indonesia di kancah internasional, dan kami terus berkembang dengan menerapkan pemanfaatan teknologi dalam penelitian kami. Harapan saya, IHS menjadi suatu wadah budaya untuk generasi baru,” pungkasnya.

Untuk mengetahui dan ikut serta dalam program-program IHS, anda dapat berkunjung ke laman daring Indonesian Heritage Society atau mengikuti kanal-kanal media sosial mereka di Facebook dan Instagram.

Leave a Reply

Your email address will not be published.