fbpx
Meski Dirundung Pandemi, Karya Seni Rupa Masih Dicari

Meski Dirundung Pandemi, Karya Seni Rupa Masih Dicari

Pandemi yang melanda seluruh dunia selama nyaris sepanjang tahun 2020 telah memberikan dampak yang luar biasa di segala lini kehidupan. Termasuk dunia seni rupa secara global. Menurut laporan Art Basel dan UBS, selama paruh pertama tahun ini saja, penjualan di galeri-galeri komersial yang menangani produk-produk seni modern dan kontemporer rata-rata turun sebesar 36% akibat pandemi.

Begitu pula yang terjadi di Indonesia, kegiatan-kegiatan terkait seni rupa berkurang drastis termasuk kegiatan pameran, bazaar, dan lain-lain. Kurator dan konsultan seni Maya Sujatmiko memaparkan bahwa dampak pandemi telah mengubah wajah aktivitas seni rupa di Indonesia.

Hantaman keras pandemi tidak serta-merta mematikan aktivitas kehidupan seni rupa Indonesia. Semangat, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta berkolaborasi berperan besar dalam menjaga keberlangsungan produktivitas seniman dan galeri seni rupa — Maya Sujatmiko

“Dampak yang paling nyata adalah kegiatan-kegiatan seni rupa yang berkurang drastis, biasanya banyak kegiatan pameran dan lain-lain. Sekarang, karena pandemi, kegiatan-kegiatan tersebut berubah dan harus dilaksanakan secara virtual,” demikian dijelaskan oleh pendiri dan pemilik Galeri Artsphere ini.

Selain itu, lanjut Board Member Yayasan Mitra Museum Jakarta tersebut, galeri-galeri seni rupa dan pekerja seni mau tidak mau harus melakukan penyesuaian yang menuntut kreativitas dan mengubah strategi jika tidak ingin tergerus oleh kerasnya gelombang pandemi dan akibat yang ditimbulkannya.

“Berubah strategi dari offline menjadi online, termasuk dalam penjualan. Semua penyesuaian ini dilakukan sesuai kondisi pandemi yang kita hadapi sekarang. Kreativitas sangat diperlukan bahkan pemikiran out of the box yang sebelumnya tidak pernah terpikirkanpun harus dilakukan. Kegiatan-kegiatan seperti pameran, workshop, dan projek-projek lain berubah medianya menjadi online dan virtual. Kemungkinan di masa depan, sistem seperti ini akan tetap diterapkan.”

Namun, menurut Maya, meskipun dirundung pandemi, aktivitas produksi dan penjualan karya seni rupa tetap berjalan. Peminat dan kolektor karya seni masih aktif melakukan pembelian.

“Para kolektor masih membeli karya seni, bahkan beberapa mempunyai alasan karena waktu sekarang dihabiskan di rumah, mereka ingin merasa nyaman dengan adanya karya-karya seni di rumah,” demikian terangnya.

Demikian juga, menurut Maya Sujatmiko, dengan para seniman. Produktivitas dan kreativitas seniman tidak serta merta surut, sebaliknya, seniman terus berkarya dan melakukan eksplorasi-eksplorasi baru dengan memanfaatkan media yang berbeda.

“Harapan saya, kita tetap penuh semangat. Jangan putus asa dan menyerah pada keadaan. Ini justru waktunya kita bergerak dan terus mengasah otak untuk selalu mencari cara dan jalan untuk tetap bertahan bahkan melakukan gebrakan-gebrakan baru yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan,” demikian pungkas Maya Sujatmiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published.