fbpx
Ritme dan Algoritme Kebudayaan

Ritme dan Algoritme Kebudayaan

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar program Pidato Kebudayaan pada 10 November lalu, acara yang dilaksanakan secara daring ini bertepatan dengan hari jadi Taman Ismail Marzuki.

Pidato Kebudayaan sebagai sebuah program tahunan DKJ mengundang tokoh nasional untuk memaparkan soalan-soalan sosial budaya yang penting dan aktual yang memberi manfaat bagi sendi-sendi kehidupan dan peradaban kita.

Tahun ini, Pidato Kebudayaan disampaikan oleh Merlyna Lim, Canada Research Chair untuk Digital Media and Global Network Society di The School of Journalism and Communication Carleton University.

Bidang penelitian Merlyna Lim adalah dinamika sosial teknologi informasi dan komunikasi, terutama pada konteks negara berkembang. Saat ini ia juga adalah profesor bidang Komunikasi di Carleton University.

Pada tahun 2016, Merlyna Lim dinominasikan dan terpilih sebagai anggota Royal Society’s College of New Scholars, Artists & Scientists. Royal Society of Canada (RSC) adalah kolegium senior akademisi, seniman, dan ilmuwan terbaik di Kanada.

Merlyna Lim, Canada Research Chair untuk Digital Media and Global Network Society di The School of Journalism and Communication, Carleton University

Merlyna Lim membuka Pidato Kebudayaan yang ia beri judul Ritme dan Algoritme Kebudayaan tersebut dengan mengutip Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī isāb al-jabr wal-muqābala karya Muhammad bin Musa Al Khawarizmi, bapak Aljabar, matematikawan, dan astronom kenamaan Persia dari abad ke-9.

Menurut Merlyna Lim, kata algoritme sendiri berasal dari nama Al-Khwarizmi yang di-Latin-kan menjadi algoritmi. Sejak itu, prosedur algoritmis telah berperan penting dalam pengembangan ide-ide mendasar, baik dalam hal-hal yang bersifat praktis maupun teoritis.

Dalam paparannya, Merlyna Lim menyebutkan bahwa secara garis besar, algoritme dapat didefinisikan sebagai spesifikasi yang runtut dalam proses pemecahan suatu masalah. Dengan kata lain, algoritme adalah serangkaian langkah-langkah tertentu yang terstruktur untuk memproses instruksi atau data menjadi keluaran (output).

Namun, menurutnya, hari-hari ini, ketika kita berbicara tentang algoritme kita kebanyakan mengacu pada algoritme yang diprogram komputer, khususnya algoritme media sosial. Pada awalnya, selama bertahun-tahun media-media sosial hadir tanpa algoritme penyaringan konten.

Mengapa mereka menjadi algoritmis? Pertama, algoritme media sosial dibuat untuk mendorong merek atau brands membayar iklan bertarget. Teorinya adalah: jika brands tidak bisa menjangkau konsumer secara organik, mereka akan beralih ke iklan, yang tentunya menghasilkan keuntungan finansial bagi platform media sosial. Kedua, populasi pengguna media sosial tumbuh secara dramatis, melambung dibanding 10-15 tahun yang lalu. Akibatnya, umpan pengguna dibanjiri jauh lebih banyak konten dibanding sebelumnya.

Algoritme media sosial didesain untuk “mempermudah” pengguna untuk memantau pembaruan (updates) dari akun-akun yang mereka “peduli”.

Seperti apakah algoritme media sosial itu? Ada banyak faktor yang diperhitungkan dalam desain algoritme media sosial. Namun pada dasarnya, konsep utamanya adalah pembelajaran mesin (machine learning) di mana algoritme belajar dari perilaku pengguna di masa lalu, untuk kemudian memprediksi dan memengaruhi perilaku mereka di masa depan. Konsep mendasar lainnya adalah tipologi pengurutan (sorting), yaitu algoritme yang menempatkan elemen-elemen dalam urutan tertentu, seperti urutan numerik atau urutan leksikografis.

Perkembangan teknologi, termasuk teknologi informasi dan komunikasi, menurut Merlyna Lim telah memberikan pengaruh dan ikut mengubah ritme kehidupan sosial dan budaya masyarakat di seluruh dunia.

Pidato Kebudayaan DKJ 2021, Ritme dan Algoritme Kebudayaan, disampaikan oleh Merlyna Lim

Dalam Pidato Kebudayaan ini, Merlyna Lim juga memaparkan bahwa teknologi telah membentuk aturan dan ritme baru ke dalam kehidupan manusia dan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya.

“Teknologi membawa aturan baru, ritme baru. Menandai era modern di Eropa, mesin cetak membawa ritme yang berbeda. Berbeda dengan ritme musiman yang menjadi kompas masyarakat agraris atau lonceng gereja yang menjadi pola putaran harian para biarawan, laju sebuah mesin cetak, dengan dua tarikan setiap detik selama 12 jam sehari, tak kenal lelah dan tak hentihentinya, membentuk ritme efisiensi.”

Secara lebih lanjut, Merlyna Lim memaparkan ritme dan algoritme yang saling berbelit kelindan dalam kehidupan sosial budaya kita sehari-hari. Ia juga mengambil contoh pergerakan-pergerakan sosial yang terbentuk di beberapa tempat di dunia yang dipengaruhi ritme dan algoritme yang terdapat dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, terutama peran media sosial yang sangat menonjol.

Secara lengkap, pidato kebudayaan ini dapat disimak di kanal Youtube Dewan Kesenian Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.