fbpx
SAPARDI TENTANG CHAIRIL – (Bagian 1)

SAPARDI TENTANG CHAIRIL – (Bagian 1)

Sapardi Djoko Damono pernah menulis tentang Chairil Anwar, dan ia memulai dengan membahas satu puisinya yang sangat terkenal: AKU. Tulisan ini dibuat dalam rangka peringatan hari tutup usianya penyair muda itu, yang diselenggarakan tahun 1984 oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia –sekarang Fakultas Ilmu-ilmu Budaya. Silakan menyimak lebih jauh. Tulisan asli naskah ini tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin.

AKU

Kalau sampai waktuku

Kumau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Luka dan bisa kubawa lari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Sajak yang dikenal oleh hampir setiap orang Indonesia yang pernah duduk di sekolah menengah itu diucapkan Chairil Anwar pada tahun 1943, di muka Angkatan Baru Pusat Kebudayaan. Jangan seribu tahun, sepuluh tahun pun tidak; enam tahun kemudian, 1949, penyair yang dilahirkan pada tahun 1922 di Medan itu meninggal di Jakarta. Sejak “Aku” tersebut, yang dalam versi lain juga diberi judul “Semangat”, sekarang umumnya dianggap sebagai ungkapan perasaan dan pikiran si penyair. Hal itu sesuai dengan anggapan H.B Jassin bahwa sajak-sajak Chairil Anwar “revolusioner dalam bentuk dan isi, membawa aliran ekspresionisme.’ Boleh dikatakan tidak ada yang menyangkutkan sajak tersebut dengan semangat Asia Raya yang dipropagandakan Jepang, yang tentunya menguasai seluruh saluran dan kegiatan pada zaman itu.

Chairil Anwar, yang ketika menulis sajak “Aku” itu masih berusia 23 tahun, tidak kita kenang sebagai seorang remaja yang cengeng, yang suka menghamburkan perasaan lewat puisi. Ia dikenang sebagai seorang yang penuh daya hidup, berpikiran matang, dan setia kepada keseniannya. Meskipun ketika meninggal umurnya belum genap 27 tahun, ia boleh dikatakan tidak pernah dikenang sebagai “penyair remaja” –dan mungkin sekali ia memang tidak pernah menganggap dirinya sendiri demikian. Barangkali sajak “Aku” itulah yang paling terkenal; oleh karenanya kita selalu mengenang Chairil Anwar sebagai “binantang jalang”. Rasanya sulit bagi kita untuk membayangkan Chairil sebagai penulis sajak-sajak semacam “Buat Album D.S.” dan “Senja di Pelabuhan Kecil”.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Leave a Reply

Your email address will not be published.