fbpx
Satu Dekade Menjaga Mimpi

Satu Dekade Menjaga Mimpi

Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (Ayodi) telah genap menapak usia satu dasawarsa, tepatnya di tanggal 3 Desember kemarin.

Selain merayakan ulang tahun mereka yang kesepuluh, Ayodi juga sukses menggelar festival dongeng berskala internasional yakni Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) yang menghadirkan tema ‘Kisah Petualangan Baru’ dengan menampilkan pendongeng-pendongeng dari dalam dan luar negeri.

Komunitas Ayo Dongeng Indonesia sukses menggelar Festival Dongeng Internasional Indonesia ‘Kisah Petualangan Baru’

FDII diselenggarakan secara daring dari tanggal 26-28 November yang lalu. Acara puncaknya berlangsung meriah yang bertepatan dengan peringatan Hari Dongeng Nasional, 28 November.

Gelaran FDII yang diinisiasi Ayodi diisi oleh pendongeng-pedongeng yang sebagian telah dikenal oleh masyarakat luas, di antaranya adalah Ria Enes dan boneka Susan yang merupakan idola anak-anak sejak era 90-an, Bagong Soebardjo, dan Feriana Tiarnida dengan boneka Winnie yang memikat hati, serta pendongeng-pendongeng dari daerah-daerah di Indonesia serta dari luar negeri.

Selain itu, Ayodi juga menggelar sebuah acara khusus untuk merayakan sepuluh tahun keberadaan mereka dalam bergiat di dunia dongeng. Acara yang digelar secara daring pada 3 Desember lalu ini diberi judul ’10 tahun Bertualang dengan Cerita’ dan tak kalah meriah dengan FDII yang usai beberapa hari sebelumnya.

Pratiwi Soetarto, Ketua Komunitas Ayo Dongeng Indonesia

Pratiwi Soetarto, Ketua Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, dalam jumpa pers secara daring bercerita bahwa dalam perayaan satu dekade Ayodi ini, mereka melibatkan setidaknya 15 komunitas dongeng dari seluruh Indonesia.

“Kami mengajak serta komunitas-komunitas di seluruh Indonesia, ada 15 komunitas, dari Poso, Aceh, Sorong, Bali, Makassar, dan lain-lain. Komunitas-komunitas ini, di daerahnya masing-masing, selain bergerak dalam mendongeng dan melestarikan tradisi-tradisi dongeng, juga menggerakkan aktivitas untuk mendorong literasi,” papar aktivis dongeng yang kerap disapa sebagai Kak Tiwi tersebut.

Menurut Pratiwi, Ayodi selama sepuluh tahun ini secara konsisten dan berkesinambungan melaksanakan  kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan dongeng. Ada beberapa agenda rutin yang biasa dijalankan Ayodi setiap bulan.

Kegiatan seperti Kelas Dongeng Baik untuk umum dan relawan, Dongeng Kejutan yang diadakan secara daring dengan memanfaatkan platform sosial media selama pandemi, dan kegiatan yang paling besar adalah Festival Dongeng Internasional Indonesia yang diadakan setiap bulan November.

Pratiwi berkisah, kegiatan tersebut berawal dari mimpi mereka untuk melestarikan dongeng dan menjaga mimpi anak-anak.  Festival  ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk merawat tradisi penuturan cerita di keluarga ataupun masyarakat sebagai bagian budaya bangsa.

“Keterlibatan pendongeng luar negeri bisa menjadi salah satu alternatif baru untuk mengenal budaya yang lebih beragam. Keterlibatan pendongeng internasional juga menjadi media baru untuk pengenalan lebih luas tradisi penuturan cerita Indonesia kepada dunia,” tutur Pratiwi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.