fbpx
Toeti Heraty, Kritis Melawan Arus

Toeti Heraty, Kritis Melawan Arus

Bulan Desember di Indonesia lekat diperingati sebagai bulan pergerakan perempuan. Peringatan Hari Ibu, setiap tanggal 22 Desember adalah peringatan terhadap besarnya kontribusi perempuan dan organisasi-organisasi perempuan dalam upaya bersama merebut kemerdekaan.

Organisasi-organisasi dan pergerakan perempuan Indonesia telah muncul sejak awal abad 20. Keleluasaan yang mulai muncul sejak diberlakukannya Politik Etis di Indonesia, memungkinkan kaum perempuan di Indonesia untuk memberikan sumbangsih dalam upaya-upaya memajukan diri dan ikut berperan dalam pergerakan bersama merebut kemerdekaan.

Pada awal tahun 1900-an, penyebarluasan pemikiran-pemikiran RA. Kartini merupakan salah satu pemicu utama yang menyulut lahir dan tumbuhnya organisasi-organisasi dan pergerakan perempuan di Indonesia.

Pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928, yang kelak diperingati sebagai Hari Ibu, tidak bisa dipungkiri adalah sebuah peristiwa penting sebagai salah satu titik tertinggi kesadaran berorganisasi kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya kala itu, terutama dalam konteks perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Di berbagai era: sebelum kemerdekaan, masa-masa awal kemerdekaan, era orde lama, orde baru, pasca reformasi 1998, hingga saat ini, pergerakan pemikiran perempuan telah mengambil berbagai bentuk dengan tujuan yang tidak pernah berubah yakni memperjuangkan kesetaraan hak-hak perempuan baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Juga, menciptakan ruang-ruang yang aman bagi perempuan untuk bertumbuh kembang dan mengekspresikan sikap, pemikiran, serta kediriannya secara bebas tanpa tekanan dan ancaman dari pihak manapun.

Dalam sejarah panjang pergerakan pemikiran perempuan di Indonesia, dengan tokoh-tokohnya di segala bidang, salah satu nama yang mencuat sebagai salah satu sosok paling penting adalah Toeti Heraty.

Seorang perempuan dengan keahlian multi-disiplin, Toeti Heraty—di antara sekian banyak sumbangsih dan karya yang telah ia hasilkan—adalah seorang filsuf, dosen, penulis, pejabat, dan terutama adalah seorang cendikia yang pemikiran-pemikirannya telah memberikan pengaruh sangat signifikan dalam pergerakan memajukan perempuan di Indonesia.

Toeti Heraty

Toeti Heraty adalah seorang penulis yang amat produktif sepanjang masa hidupnya. Tokoh perempuan kelahiran 27 November 1933 ini telah berkarya sejak usia muda. Puisinya terbit pertama kali di majalah Horison pada tahun 1967. Ia kemudian mengambil posisi penting dalam khasanah sastra kontemporer Indonesia.

Menurut penyair Ni Made Purnama Sari dalam esainya Yang Terkenang dari Toeti Heraty, puisi-puisi karya Toeti Heraty bisa dibaca dalam dua bingkai, pertama murni sebagai karya sastra dengan berbagai pertimbangan estetikanya. Kedua, sebagai karya yang political correctness, di mana konteks selalu bertaut untuk memberi lapis demi lapis makna baru. Konteks yang disebut Ni Made Purnama Sari sebagai buah-buah pemikiran Toeti Heraty.

Dalam esai tersebut pula, Ni Made Purnama Sari mengulas bahwa Toeti Heraty memperlakukan puisi barangkali relatif berbeda dari caranya menuliskan ulasan pemikiran, filsafat, ataupun kebudayaan. Elaborasi Toeti Heraty dalam puisi, menurutnya, merupakan ruang percakapan paling hangat, di mana beliau bisa berdialog dengan dirinya sendiri sembari ulang-alik memberi arti pada apa yang terjadi di sekelilingnya.

Menurut Ni Made Purnama Sari, ada kalanya Toeti Heraty seakan-akan tidak ingin larut dalam pertimbangan puitika, semacam standar-standar keindahan yang sejatinya harus terus menerus diguncang itu agar dunia kepenyairan terus menggelinding menemui hal-hal baru. Namun, diksi-diksinya bukanlah diksi yang sembarang. Begitu pula pilihan idiom dan metafornya. Semuanya bahkan menggambarkan konsistensi perlawanan, baik dalam hal membongkar stereotip konvensi keindahan itu, bahkan bila mungkin ialah stereotip cara pandang kita dalam memandang kehidupan dan membuka lapis demi lapis mitos, dan kemunafikan.

Ni Made Purnama Sari

Kepada Kultural.id, Ni Made Purnama Sari mengungkapkan ia terkesan oleh luasnya spektrum kekaryaan Toeti Heraty dalam bidang kebudayaan.

“Beliau mengkaji hal-hal yang sedemikian kaya, dari filsafat, sejarah, seni, dan feminisme. Semasa muda, beliau bahkan pernah menempuh studi ilmu kedokteran. Kiranya, keluasan pemahaman ini turut juga memberi isi bagi tulisan-tulisan sastrawi yang ditulisnya. Dalam puisi-puisinya, misalnya, kita tidak hanya menemukan ungkapan puitik yang elok secara estetik tetapi tetap menyimpan lapis demi lapis makna terkait filsafat, sosiologis, budaya, dan kehadiran perempuan dalam masyarakat,” terangnya.

Manakala ditanya perihal karya Toeti Heraty yang paling penting dalam pandangannya, setidaknya untuk dibaca oleh generasi sekrang, Ni Made Purnama Sari merekomendasikan Nostalgi=Transendensi (1995). Menurutnya, boleh dikatakan bahwa buku tersebut merangkum sepilihan puisi Toeti Heraty dari berbagai lini masa, dan karenanya, menunjukan perkembangan dan pencarian kreativitasnya.

Calon Arang juga bacaan yang berisi, dan akan jadi sangat menarik jika buku ini kita bandingkan dengan kisah Calon Arang yang tumbuh di masyarakat. Dengan demikian, akan kentara di sisi mana saja elaborasi estetik dan tematik secara nyata dilakukan oleh Ibu Toeti, sekaligus tawaran pembacaan kritis beliau atas naskah tradisi ini.

Dengan melakukan studi pembacaan seperti ini, kita akan memahami betapa sebenarnya Ibu Toeti ingin sekali mengajak kita untuk melakukan pembacaan kritis atas berbagai hal, baik sejarah, budaya, relasi sosial, pemahaman filsafat, apa saja. Kesadaran pembacaan kritis juga merupakan sikap dasar yang penting bagi para intelektual serta kreator.”

Calonarang: The Story of a Woman Sacrificed to Patriarchy (2006)

Kemampuan Toeti Heraty dalam menelisik begitu mendalam perihal perempuan dalam pusaran konflik kekuasaan, misalnya dalam Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000) dan Ranha Boki Raja Ratu Ternate Abad Keenambelas (2010), termasuk keberhasilan Toeti dalam menuliskan kisah mereka dari sudut pandang yang berbeda, menurut Ni Made Purnama Sari adalah karena Toeti Heraty memahami dua hal, yakni kekaryaan dan sosok subyek yang dikajinya, serta pemaknaan akan posisi mereka dalam konteks budaya dan sejarah.

“Pemahaman yang pertama memungkinkan ibu Toeti menjabarkan alur kisah mereka. Pemahaman yang kedua beririsan dengan perspektif-perspektif di luar teks, misalnya kehadiran mereka dalam masyarakat yang patriarkis, fenomena penulisan sejarah yang hanya mencantumkan sebagian kisah dan meniadakan kisah yang lain, dan seterusnya,” papar Ni Made Purnama Sari.

Lebih lanjut, Ni Made Purnama Sari menuturkan bahwa perempuan dalam Calon Arang memang merupakan sosok perempuan yang teraniaya dan terpinggirkan akibat perspektif patriarki yang selalu menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua.

“Tapi, dalam pandangan Toeti Heraty, dengan pembacaan kritisnya, tokoh ini menggambarkan seorang perempuan yang berani bersikap, menentukan pilihan meskipun berseberangan dengan arus utama,” tukas Ni Made Purnama Sari.

Rainha Boki Raja Ratu Ternate Abad Keenambelas (2010)

Toeti Heraty telah berpulang pada tanggal 13 Juni 2021 yang silam. Namun, karya-karya dan pemikirannya tak akan habis-habis untuk digali. Dalam diskusi Rainha Boki Raja dalam Peran Sejarah Kebangsaan: Sebuah Sorotan Seni Budaya yang digelar secara daring oleh Cemara 6 Galeri Museum, disebutkan bahwa upaya-upaya dan penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk menuangkan buku Rainha Boki Raja Ratu Ternate Abad Keenambelas karya Toeti Heraty ke dalam film.

Leave a Reply

Your email address will not be published.