fbpx
Ahmad dan Jalan Lain Menuju Kebajikan, Tiga Buku Karya Wikan Satriati

Ahmad dan Jalan Lain Menuju Kebajikan, Tiga Buku Karya Wikan Satriati

Ahmad dan Domba Kecilnya
Gadis Kecil Penjaga Bintang
Melangkah dengan Bismillah
Wikan Satriati (penulis)
& EorG (Evelin Gozali, penggambar)
Penerbit Republika, 2016

Tiga buku kumpulan cerita anak ini ditulis lebih baik dari kebanyakan buku kumpulan cerita yang mendaku, sering dengan pongah, sebagai “sastra Indonesia” dan bacaan orang dewasa.

Imajinasi yang lentur, tuturan yang terstruktur, bahasa yang indah, membuat ketiga buku ini kuat sebagai sastra anak yang bisa dinikmati oleh orang dewasa. Mirip The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry.

Perbandingan itu bukan mengada-ada. Novela anak The Little Prince terbit pertama kali dalam bahasa Inggris dan Prancis pada 1943. Novela itu dimaksudkan sebagai cerita untuk anak, tapi berisi amatan tentang hidup dan persoalan-persoalan orang dewasa. Di dalamnya, ada soal-soal “gelap” seperti kematian, kebuasan alam, kehilangan, dan sebagainya. Itulah sebabnya ia dibaca dan jadi “klasik” bagi orang dewasa juga. Tiga buku karya Wikan Satriati ini juga kisah untuk anak yang tak memalingkan diri dari persoalan-persoalan gelap manusia.

Ahmad dan Domba Kecilnya, Wikan Satriati (penulis) & EorG (ilustrasi), Penerbit Republika, 2016

Buku Ahmad dan Domba Kecilnya, lahir dari inisiatif KPK (Komite Pemberantas Korupsi) dan Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) berupa program Indonesia Membumi yang merupakan singkatan dari Indonesia Menggagas dan Menerbitkan Buku Melawan Korupsi. Singkatannya memang sedikit membingungkan, kok bisa jadi “membumi”, ada semacam akrobat kata di situ. Tapi, inisiatif itu menarik, dan Wikan berhasil menaklukkan dua tantangan besar dalam program semacam ini: jebakan menjadi verbal dan propagandis, dan jebakan petuah yang tak indah dan hampa makna karena hanya mengandalkan moral kalengan.

Dua jebakan ini semakin terasa dalam posisi membuat buku anak yang berpijak pada nilai keagamaan. Dakwah seringkali mewujud dalam litani petuah yang tak indah demikian: verbal belaka, juga moralitas hitam-putih yang menghindari warna kompleksitas. Di sisi lain, terlalu fokus pada kompleksitas pun bisa menjebak. Teks jadi rumit atau ruwet, tak menyenangkan buat jadi bacaan anak atau sebagai bacaan secara umum.

Wikan memilih tema perlawanan terhadap korupsi dalam topik yang sederhana sekaligus sangat pokok, yakni masalah kejujuran. Di sampul, ada lingkaran kecil dan merah, beraksara putih, mencantum: “Berani Jujur Hebat!”. Jika melihat keadaan KPK saat ini, program dan topik ini terasa ironis. Tapi, ini hanya membuktikan bahwa buku Wikan ini melampaui segala program sesaat, dan memiliki daya tarik yang substansial.

Cerita pertama, yang jadi judul bukunya, dengan gamblang bertutur tentang kejujuran. Di suatu gurun entah, Ahmad kehilangan domba, dan ia mencari ke padang gembala milik seorang kakek rabun yang punya banyak domba gemuk dan berbulu tebal. Ahmad dua kali ditawari sang kakek rabun domba gemuk, Apakah ini domba milikmu?

Wikan berhasil mengolah tema gamblang ini dengan sebuah permainan bentuk dan juga hikmah yang lebih kompleks dari sekadar “menjadi jujur adalah baik, dan sudah seharusnya”. Saat mendapatkan tawaran domba gemuk dan kesempatan mengakui domba bukan miliknya sebagai miliknya, Ahmad terkenang sebuah dongeng tentang kejujuran dari ibunya. Maka, cerita ini jadi sebuah cerita berbingkai, cerita dalam cerita.

Permainan bentuk ini sebuah siasat jitu untuk menyampaikan hikmah substansial. Jika dalam dongeng lama, kejujuran berbuah hadiah, dalam hidup “nyata” Ahmad tak demikian. Kejujuran tak berbuah hadiah fantastik, hanya sebuah perasaan lega telah melakukan sesuatu yang benar. “Ahmad bsa merasakan hadiah yang jauh lebih besar, yaitu kelegaan hati karena tidak melakukan sesuatu yang salah.” (Hal. 12). Dalam kisah Wikan, kebajikan dan kejujuran saja cukup, tanpa perlu pamrih atau iming-iming lain.

Ada enam kisah di buku ini, latar tempat waktu yang dikesankan entah kapan dan di mana dan merentang hingga beraneka masa dan ruang. Ada padang gembala, juga surau di masa yang dekat dengan kita, dan pula pojok kota seperti stasiun kereta yang telah padam lampu-lampunya, atau sekitar warung tenda seafood. Imajinasi Wikan sekaligus bebas dan terjaga. Di setiap kisah, latar dan peristiwa yang imajinatif tetap memiliki logika dalaman yang ketat. Disiplin Wikan menjaga logika dalaman cerita-ceritanya justru membuat cerita-cerita itu terasa lebih hidup dan nyata, walau pada saat yang sama ada suasana magis atau kadang sureal tersirat di situ.

Hal yang sama terasa dalam dua buku Wikan lain, Gadis Kecil Penjaga bintang, 7 Kisah Tentang Doa dan Melangkah dengan Bismillah, Kisah-Kisah tentang Kalimat Thayyibah. Ketiga buku ini terbit pada 2016, tapi secara urutan, dimulai Melangkah dengan Bismillah, lalu Gadis Kecil Penjaga Bintang, dan kemudian kisah-kisah “Berani Jujur Hebat!”, Ahmad dan Domba Kecilnya. Kita melihat bahwa kisah-kisah Wikan dirancang untuk terbit dalam ikatan tematik.

Gadis Kecil Penjaga Bintang, Wikan Satriati (penulis) & EorG (ilustrasi), Penerbit Republika, 2016

Buku Gadis Kecil Penjaga Bintang terdiri dari tujuh kisah fantastik. Di sini tampak jelas, Wikan percaya bahwa imajinasi tidak bertentangan dengan agama. Setiap kisah di buku ini dimulai dengan kutipan ayat Al Qur’an. Lalu kisah-kisah pun ditutur, tentang bulan yang bercakap dengan gadis kecil, tentang puteri duyung, atau para pinguin dengan mata uang ajaib. Saya sungguh suka gambaran Wikan tentang mata uang ajaib itu!

Mata uang pinguin di dunia Wikan adalah bintang jingga. “Bintang jingga adalah kristal es yang berwarna kuning kemerahan seperti cahaya matahari kutub. Namun, meski terbuat dari es, bintang itu terasa hangat…. Kristal bintang jingga hanya datang pada orang yang tepat dan pada saat yang tepat…. Meski demikian, kristal bintang jingga bisa diperoleh dengan kerja sungguh-sungguh dan cinta.” (Hal. 37-38).

Melangkah dengan Bismillah adalah kumpulan paling tebal dari ketiganya. Poros kisah-kisah ini adalah kalimat-kalimat baik dalam ajaran Islam, yakni: Bismillah, Alhamdulillah, Assalamu’alaikum, Subhanallah, Lailahaillallah, Astaghfirullah. Ini adalah kata-kata yang telah jadi bagian budaya dan hidup sehari-hari di Indonesia. Penggunaannya seringkali telah otomatis, sehingga maknanya pun menipis jadi sekadar ucapan basa-basi atau bagian performatif orang Indonesia kala berhubungan dengan orang lain di ranah publik.

Melangkah dengan Bismillah, Wikan Satriati (penulis) & EorG (ilustrasi), Penerbit Republika, 2016

Melalui imajinasi, Wikan membuat kata-kata itu bermakna lagi bagi saya. Bagi pembaca. Dalam kisah Assalamu’alaikum, seorang anak yang selalu merepotkan orang-orang sekitarnya dibawa seorang kakek ke masa “Raja Umar” dan seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan tangis anak-anaknya yang kelaparan. Kita mungkin tahu, ini merujuk pada kisah Umar bin Khatab, khalifah kedua sepeninggal Rasulullah SAW. Wikan memberi sentuhan tambahan pada cerita ini, bahwa di samping makanan, anak-anak juga memerlukan mainan. Kisah ini membangun kesadaran tentang tenunan sosial yang perlu dibangun, dengan benangnya adalah perhatian pada sesama dan berbuat kebajikan.

Bisa disimpulkan, secara keseluruhan, kisah-kisah Wikan memang bertema pentingnya berbuat baik. Fokus Wikan adalah berbuat, tindakan. Bukan menjadi “orang baik”, dalam pengertian mengejar status dan seringkali bersifat perfomatif belaka. Payung tematik ini jadi terasa penting, melihat konteks masyarakat kita di dunia Post-Truth kini, yang seringkali berai dan penuh ketegangan, bahkan penuh kekerasan. Wikan memberi jalan lain bagi gerakan mengajak pada kebajikan. Tidak lewat doktrin, tidak lewat penghakiman, tapi lewat imajinasi dan ajakan berbuat baik pada semua.

Dan jalan imajinasi ini semakin kuat sebagai pilihan, karena sikap berbahasa Wikan dalam menutur kisah-kisahnya. Wikan menulis dengan jernih, struktur kalimat di setiap paragraf terjaga, tapi juga leluasa saja menggunakan kata-kata bahasa Indonesia yang jarang dikenal kini tapi sesuai dengan kebutuhan pengisahan. Misalnya, kata “lasak” atau “berpulas jingga”. Dalam acara Sahabat Seni Nusantara mengenang Wikan (Wikan wafat karena Covid-19 pada 25 April 2021), Agustus lalu, Reda Gaudiamo memujikan sikap bahasa ini.

Sebagai penulis buku anak juga, Reda selalu memikirkan apakah kata-kata yang ia pilih dalam ceritanya diakrabi oleh pembaca kanak masa kini? Melihat Wikan menuliskan kisah-kisahnya, Reda jadi berpikir, ah, tak apa juga mengenalkan kata-kata yang tak diakrabi oleh anak sekarang, asalkan memang tepat, jitu, dan baik. Sikap bahasa Wikan bisa turut meluaskan kekayaan berbahasa anak-anak. Jika ada kata tak diketahui, si anak bisa buka kamus atau klik google. Sebuah jendela bahasa terbuka.

Satu hal lagi yang istimewa dari ketiga buku ini, ilustrasi-ilustrasi dari EorG –ini nama pena Evelyn Ghozali. Bukan hanya terasa “kawin” dengan cerita-cerita Wikan, gambar-gambar Evelyn tampil tak berlebihan namun amat layak. Pilihan palet warna dan teknik gambar Evelyn, juga objek-objek yang digambarkan (sosok figuratif, kostum, suasana ruang) membuat kisah-kisah Wikan jadi sajian mewah dalam kemiskinan bacaan baik bagi anak di Indonesia.

Malah, ini selayaknya jadi bacaan di dunia internasional juga. Beberapa penerbit asing tertarik pada buku-buku Wikan ini saat di Frankfurt Book Fair 2015 dan London Book Fair 2019. Di balik layar, ini adalah contoh tindakan kebajikan antara Wikan dan Evelyn yang berbeda agama. Evelyn dalam acara mengenang Wikan itu, bercerita bahwa Wikan membebaskan Evelyn menafsir kisah-kisah Wikan. Kebebasan adalah watak dari imajinasi, jalan kebajikan yang dipilih Wikan. Adalah sebuah impian yang layak, semoga bukan lajak, berharap buku-buku Wikan bisa mendapat khalayak internasional seperti The Little Prince. ***

*Penghormatan untuk Mbak Wikan, orang baik yang pergi terlalu cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.