fbpx
Belajar dari Orang Rimba

Belajar dari Orang Rimba

Menjaga Rimba Terakhir

Mardiyah Chamim
Kata Pengantar: Prof. Emil Salim
Penerbit: Warsi, 2021
581 halaman

 

Pada November-Desember 2021, Indonesia seakan sedang mendapatkan keleluasaan dari pandemi Covid-19 yang telah berjalan hampir dua tahun. Pada 5 Desember 2021, angka kematian akibat Covid-19 tercatat 4 orang. Kasus baru, 196. Dibandingkan puncak gelombang kedua, yakni 15 Juli 2021 yang mencatat angka kasus positif baru sejumlah 56.757 dan 982 meninggal pada satu hari, angka kasus dan kematian pada 5 Desember 2021 itu sungguh drastis. Kita masih berduka, tapi ada rasa lega. Tapi, apakah Indonesia telah belajar sungguh-sungguh dari pandemi ini?

Kabar dari Eropa, gelombang ketiga pandemi ini telah melanda. Beberapa negara yang telah jadi tolok ukur penanganan pandemi kini mengalami ketegangan. Jerman, misalnya, pada 5 Desember 2021 mencatat 42.055 kasus baru dan 94 kematian baru. Eropa, dan Amerika, juga Afrika yang mencatat varian baru Covid-19 –Omicron– mengalami lonjakan yang mengkhawatirkan.

Orang Indonesia yang selama pandemi mungkin dilanda kecemasan berada dalam posisi pariah (penanganan pandemi yang serbasalah pemerintah, masyarakat yang sukar mengikuti aturan-aturan prokes dan pembatasan yang serba simpang siur, angka-angka yang terus merayap naik secara mencemaskan/mengenaskan hingga Juli tahun ini), untuk pertama kali melihat huru-hara pandemi sebagai penonton di tepi tsunami. Ada harap-harap cemas, tapi jelas ada perasaan umum bahwa kita sedang berada di tepian (relatif) aman.

Momentum perasaan aman ini, adalah juga sebuah momentum untuk memelajari mitigasi pandemi yang lebih tepat bagi Indonesia. Perasaan “menang” yang terlalu cepat di titik ini bisa berakibat maut berkepanjangan. Setidaknya, itu kita telah belajar ketika kita merasa angka-angka maut kita “tak seberapa” atau “mending” dibanding banyak negara di dunia pada awal 2021 (atau, bahkan, sepanjang 2020 sejak awal pandemi dan kita melihat para pejabat kok santai dan bercanda-canda saja).

Buku ini ditulis oleh Mardiyah Chamim, seorang perempuan jurnalis kawakan, di tengah pandemi dan dengan kesadaran akut akan pentingnya kita belajar dari situasi serba duka akibat Covid-19 ini. Ini gamblang: bab 1, prolog, bertajuk “Pandemi, Pesan Alam Raya”. Mardiyah memulai buku tebal dan desain lezat di mata ini dengan pengakuan bahwa 2020 adalah tahun “momen penyadaran yang dahsyat” (hal. 31).

Mesin ekonomi dan segenap sekrupnya, roda perdagangan, produksi pangan, bahkan model silaturahmi, jungkir balik. Semua sedang mencari bentuk dan keseimbangan baru, menuju normal yang baru. Kehidupan berubah cepat. Tikungan tak terduga menanti di setiap lini. Sebuah revolusi telah datang. (Hal. 31)

Dan, lanjut Mardiyah, agen revolusi kini “…bukan manusia, bukan kelompok yang digerakkan ideologi apa pun.” Justru karena itu, “revolusi terjadi cepat, tak mempan suap, tak kenal kolusi, tak pandang kaya-miskin, juga tak kenal kompromi.” Agen revolusi itu adalah virus. Sentimen ini sebetulnya segera muncul di awal pandemi tahun lalu. Slavo Žižek menuliskan guncangan sistemik pandemi ini dalam bukunya yang terbit di awal pandemi ini, Pandemic! (2020). Begitu juga esai Martin Suryajaya pada 30 Maret 2020, Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Pandemi.

Namun, Žižek dan Martin menyoroti guncangan sistemik akibat pandemi terutama dalam hal guncangan struktur kapitalisme dalam arus gerak modal dan respon-respon negara dan dunia global terhadap pandemi. Mardiyah lebih mengajak kita menelusuri secara jurnalistik jalan yang selama ini ada di jantung Nusantara tapi selama ini kita abaikan: bagaimana kearifan tradisional orang rimba di Jambi menyikapi alam.

Persisnya, buku ini sebetulnya sebuah laporan mendalam tentang kiprah sebuah organisasi non-pemerintah (ornop) bernama Warsi (Warung Informasi Konservasi) yang berdiri pada 1991. Organisasi ini merupakan upaya aliansi berbagai ornop di Sumatera bagian selatan, yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Organisasi ini didirikan pada masa pengelolaan hutan sangat sentralistik, nir-partisipasi rakyat, tertutup, kolutif, dan “mengedepankan pendekatan keamanan” (hal. 15). Dengan kata lain, pada masa itu, pendekatan militeristik rezim Soeharto mendominasi pengelolaan hutan.

Akibatnya, tulis Rudi Syaf (direktur Warsi) dalam pengantarnya, “terjadi degradasi dan dehumanisasi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan” (hal. 15). Kehadiran Warsi adalah sebuah upaya pemberdayaan warga di dalam dan sekitar hutan Sumatera Selatan untuk membangun model pengelolaan hutan yang tak lagi mengandalkan “pendekatan keamanan” tersebut. Mardiyah melakukan ekspedisi 22 hari menjelajah rimba dan sekitarnya di Jambi-Sumatera Barat, dan melihat model pengelolaan itu bekerja. Model yang disebut sebagai konsep kehutanan sosial.

Ini konsep yang membuat masyarakat menata diri, bersama menjaga dan mengelola hutan. Sebuah perubahan sosial budaya sedang terjadi, meskipun belum semuanya berjalan ideal. Konservasi hutan sebelumnya adalah murni urusan negara, kini berubah. Masyarakat, yang tinggal di tepian dan di dalam hutan, menata dan menguatkan diri menjadi tuan rumah yang bertanggung jawab pada hutan tempat hidupnya. (hal. 56)

Pengenalan konsep kehutanan sosial ini penting, terkait dengan situasi kita kini. Mardiyah menegaskan pemahaman bahwa eksploitasi alam berakibat langsung antara lain pada pandemi. Ada tiga hal yang menjadi keyakinan buku ini berkenaan dengan eksploitasi alam (hal. 38-40). Pertama, eksploitasi alam berakibat mutasi virus lebih mudah terjadi. Kedua, eksploitasi alam yang kini terjadi juga berarti terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi yang teramat parah. Ketiga, manusia semakin rentan menghadapi pandemi dan dampak perubahan iklim.

Dalam empat bagian dan 31 bab, Mardiyah menuliskan inti pesannya: solusi kita ada di alam (hal. 43). Dan dia menulis dengan metode jurnalistik yang terjaga. Mardiyah melakukan “kerja-kaki”, menjelajah langsung ke lapangan, mengamati situasi rimba dan tepian-tepiannya, mewawancara. Ia juga mengerahkan tim riset untuk mendapatkan data-data statistik dan data-data kepustakaan yang kaya. Sembari, di samping penulisan yang hidup, Mardiyah juga mengayakan buku ini dengan foto-foto bernilai jurnalistik tentang serba-serbi hidup di alam rimba dan sekitarnya, dari delapan fotografer.

Itulah mengapa buku lumayan tebal ini sedap di mata. Di samping bertabur cerita menarik dari dunia rimba Jambi dan Sumatera Barat, sekujur buku juga bertabur foto-foto berwarna yang mengandung cerita, di samping tabel-tabel yang didesain sebagai infografis penuh warna dan mudah dibaca. Di sana-sini ada petikan-petikan data, semisal “20 konglomerat menguasai 572 perusahaan HPH” (hal. 76), “750 ribu rupiah sebulan penghasilan Orang Rimba Sungai Terab dari menyadap karet” (hal. 318), dan “200 ton kopi Surian setiap tahun, jika setiap hectare bisa menghasilkan sedikitnya 750-800 kilogram” (hal. 463, pada bab bertajuk “Kopi Kami Dijaga Kawanan Siamang”).

Bagian dua, “Orang Rimba Kehilangan Rimba”, berhasil menggambarkan penggusuran sistematis nilai-nilai kearifan tradisional Orang Rimba yang selama Orba mengalami penggusuran demi penggusuran fisik, sosial, dan kultural. Trend penggusuran terstruktur yang tak tampak mereda kini. Bagian ketiga, “Hutan, Bukan Sekadar Kumpulan Kayu”, menggambarkan dari dekat praktik dan praksis kearifan hidup bersama alam.

Banyak kisah-kisah singkat tapi menghunjam dari individu penghuni rimba dan sekitarnya, ditutur Mardiyah dalam bentuk terbaik tulisan jurnalistik: jelas, lugas, punya sudut pandang (angle) cerita yang tajam, dan ditutur dalam ekonomi bahasa yang ketat sekaligus luwes. Mardiyah dengan baik menerapkan diktum “tunjukkan, bukan diktekan” (“show, don’t tell”). Perhatikan, misalnya, bagaimana Mardiyah memulai bab berjudul alusif pada sebuah sajak liris Chairil Anwar, “Pinus Menderai Sampai Jauh” (hal. 491):

Hutan pinus tak pernah gagal membawa damai. Ribuan pohon pinus, Pinaceae merkusii, yang langsing berderet menjulang tinggi. Daun-daun runcingnya menapis cahaya matahari. Samar harum aroma atsiri, dari getah pohon yang disayat, menguar ke udara. Dahan-dahan yang rapuh saling beradu dipukul angin.

Metode penulisan jurnalistik yang berdisiplin ini sangat tepat untuk menghadirkan sebuah pesan yang membujuk dengan asyik agar kita menyadari dampak eksploitasi alam dan pentingnya kembali pada kearifan hidup bersama alam. Misalnya, pada kisah “Gentar Yang Tak Kenal Gentar” (hal. 233-239), yang disusun dari obrolan yang terasa santai. Atau, bab “Terbit Karbon di Bujang Raba” (hal. 397-402) yang dengan lincah melompat antara paparan intim mengobrol dengan Bakian, tokoh desa Lubuk Beringin di Jambi, dengan paparan klinis tentang situasi alam dan jatuh bangun berhadapan dengan regulasi. Sayang sekali, foto di sini tanpa keterangan, sehingga saya cuma menduga bahwa itu foto Bakian.

Mardiyah membawa kita pada sosok-sosok yang memberi wajah bagi data-data mentah tentang dunia Orang Rimba di Sumatera Selatan. Akan halnya mengenai Orang Rimba, Prof. Emil Salim memberi bingkai menarik dalam pengantarnya bagi buku ini. Dunia dilanda pertumbuhan “Rimba Orang” yang menggerus dunia “Orang Rimba”. Ketika pandemi melanda (lagi, setelah sebelumnya di awal abad ke-20, terjadi pandemi Flu Spanyol), kita perlu menggali hingga jauh ke akar kearifan Orang Rimba.

Dalam bagian Epilog, Mardiyah mengutip puisi Ana Varela Tefur, seorang penyair Peru, yang dikutip oleh Paus Francis dalam surat panjangnya menyeru “pertobatan ekologi”, Dear Amazonia, tertanggal 12 Februari 2020:

where torture dwelt,
and vast are the forests
purchased with a thousand deaths

***

Leave a Reply

Your email address will not be published.