fbpx
Bersama Menghadapi Kanker Payudara

Bersama Menghadapi Kanker Payudara

Kanker payudara bisa diobati. Deteksi dini sangat penting agar kemunculan kanker di tahap awal dapat diketahui dan diatasi dengan tepat.

Kanker adalah ancaman yang bisa menyasar siapa saja dan di waktu yang tidak terduga. Begitu juga kanker payudara.

Kecamuk emosional yang mesti dihadapi seseorang yang harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya mengidap kanker payudara begitu luar biasa dan nyaris tidak tertanggungkan.

Terpaan badai semacam itulah yang dirasakan Pocut Mudrika (27 tahun) ketika ia terdeteksi mengidap kanker payudara.

“Rasanya bercampur aduk antara kaget, sedih, takut. Semuanya jadi satu. Rasanya sudah berada di ujung dunia,” ungkap Pocut kepada Kultural.id

Awal kecurigaan terhadap kondisinya terjadi ketika Pocut berada di ruangan operasi, Pocut baru saja melahirkan anaknya yang kedua. Saat itu, ada tim dokter laktasi yang membantunya melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan teraba benjolan yang tidak normal.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Pocut dinyatakan mengidap kanker payudara stadium empat.

“Yang ada di pikiran aku cuma anak-anakku yang masih butuh aku banget. Suamiku juga merasakan hal yang sama, tapi dia berusaha tetap tegar dan menguatkan aku. Ngga henti-hentinya dia menyemangati aku untuk berobat sampai tuntas,” kenang Pocut.

Pocut Mudrika

Di kala dirinya berada di titik terendah dalam hidupnya pasca didiagnosa, Pocut merasakan kebutuhan untuk mencari teman sekadar berbagi cerita dan dimengerti.

“Saat itu aku ketemu akun instagram yang ternyata adalah anggota Lovepink, dan dia warrior dengan kanker payudara juga, namanya Ugi. Kami saling bertukar pesan, Ugi yang rekomendasikan aku untuk masuk grup Lovepink,”

Dari grup inilah kemudian Pocut terhubung dengan Mitha Purba, salah seorang tim pendamping warrior kanker payudara dan dr. Patsy Djatikusumo, advisor medis Lovepink.

Lovepink adalah sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada kegiatan sosialisasi deteksi dini dengan cara SADARI (Periksa Payudara Sendiri), SADANIS (Periksa Payudara Secara Klinis), dan pendampingan bagi sesama perempuan dengan kanker payudara.

Lovepink bergerak dengan basis komunitas survivors (penyintas) yang bekerja secara sukarela untuk mendukung visi dan misi organisasi ini.

“Setelah masuk grup, aku langsung dihubungi oleh Mba Mitha dan dr. Patsy. Mereka selalu ada untuk saya ketika pengobatan berlangsung. Ngga mudah untuk saya menjalani pengobatan saat itu tetapi dengan pendampingan dari Mba Mitha dan dr. Patsy rasa takut yang saya hadapi jauh berkurang. Saya mendapatkan banyak suntukan semangat untuk berjuang.”

Sejak awal terdeteksi, Pocut segera melakukan biopsy untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kemudian ia menjalani mastektomi payudara kiri.

Proses pengobatan tersebut dilanjutkan dengan kemoterapi sebanyak enam kali. Setelah dinyatakan bersih, Pocut melanjutkan terapi hormonal selama dua tahun.

Dari segala proses yang dijalaninya, Pocut merasakan ada yang berubah dalam caranya memandang kehidupan. Ia menjadi lebih menghargai setiap waktu yang dilewati bersama orang-orang terdekat. Dan baginya, salah satu hal yang paling berperan dalam menguatkannya menjalani segala proses tersebut adalah dukungan dari keluarga dan rekan-rekan dari kelompok pendamping, yang juga adalah warrior, sesama pejuang yang bertarung melawan kanker payudara.

Sebagaimana dituturkan oleh Mitha Purba, tim pendamping dari Lovepink, pendampingan berperan sangat penting karena para warrior–pasien yang sedang menghadapi kanker payudara–bisa merasakan memiliki teman senasib dan dapat membangkitkan semangat.

Karena para pendamping ini juga adalah penyintas kanker payudara, yang bisa meneruskan hidup dengan normal dan menjalani kehidupan dengan baik. Mitha Purba sendiri adalah seorang penyintas kanker. Ia pernah menghadapi kanker thyroid pada tahun 2000, kanker payudara pada tahun 2014, dan kembali berhasil menjadi penyintas ketika kanker payudaranya relapse  pada tahun 2019.

“Pendampingan sangat penting karena seperti diketahui bersama, kanker adalah penyakit yang menjadi momok bagi setiap orang. Penderita kanker maupun keluarganya, pasti sangat terpukul dan membutuhkan tempat untuk berbagi cerita dan mencari tahu bagaimana menghadapinya dengan tepat dan benar,” terang Mitha.

Mitha Purba

Menurut Mitha, hingga saat ini Lovepink sudah melakukan pendampingan terhadap 3.500 orang warrior dan survivor yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia.

Dalam pendampingan ini, Lovepink mempunyai grup Whatsapp untuk warrior dan survivor.

Dalam grup Whatsapp warrior, tim Lovepink berbagi informasi dan menjawab pertanyaan seputar treatment saat pertama kali pasien didiagnosis kanker payudara. Apa yang harus dilakukan saat kemoterapi, radiasi, target terapi, bone terapi, dan pasca operasi serta memotivasi mereka untuk terus berjuang menjemput sehat.

Sementara itu, dalam grup Whatsapp survivor, tim pendamping memberikan motivasi untuk hidup sehat pasca treatment, termasuk mengenai pola makan maupun olahraga teratur.

“Sebelum pandemi, Lovepink mengadakan visitasi dan pendampingan ke rumah sakit serta mengunjungi rumah warrior yang membutuhkan pendampingan khusus di saat kemoterapi, sebelum atau sesudah operasi. Pendamping pasien telah dibekali pelatihan yang bersertifikasi, sehingga saya dan teman-teman visitasi dapat melakukannya dengan tepat dan benar,” terang Mitha.

Menurut Mitha, Lovepink tidak hanya melakukan pendampingan. Ada beberapa program lain yang secara berkesinambungan dilaksanakan oleh Lovepink.

Program Pink Talk adalah kegiatan sosialisasi deteksi dini kanker payudara ke berbagai lini masyarakat. Di perkantoran, sekolah-sekolah, Puskesmas, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), bantaran kali, tempat pembuangan sampah dan lokasi pra-sejahtera lainnya.

Selain itu, Lovepink juga menjalankan program bernama Pink Van. Sebelum pandemi, , Lovepink melakukan pemeriksaan USG payudara di dalam mobil van yang dinamai Breasties Van. USG payudara ini gratis untuk lokasi pra-sejahtera dan berbayar untuk masyarakat yang mampu dan perkantoran.

Tim Lovepink dalam salah satu program Pink Van, pemeriksaan USG payudara di dalam mobil van yang dilaksanakan secara gratis untuk lokasi pra-sejahtera dan berbayar untuk masyarakat yang mampu dan perkantoran. Foto: Lovepink

Tahun ini, dalam rangka bulan kanker payudara, Lovepink berinisiatif untuk mengorganisir program Gerakan 1000 USG Payudara Gratis bagi perempuan pra-sejahtera di Indonesia, dengan menggandeng beberapa rumah sakit dan mengundang pihak-pihak lain yang ingin berpartisipasi dalam  program ini.

“Semoga cara ini bisa membantu semakin banyak perempuan Indonesia yang kurang mampu supaya dapat memeriksakan kesehatan payudaranya secara klinis,” ujar Mitha.

Program-program tersebut, menurut Mitha, akan terus dijalankan secara berkesinambungan hingga tercapai visi yang diemban Lovepink, yaitu Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut di tahun 2030.

Leave a Reply

Your email address will not be published.