HOME

Literature

Alih Media, Strategi Penting dalam Pelestarian Cerita Rakyat

Jun , 4

Indonesia sebagai sebuah negara yang begitu kaya akan keragaman kultural memiliki ribuan cerita rakyat yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Masing-masing cerita rakyat ini mengandung nilai-nilai kognitif, moral, bahasa, juga sosial yang khas.

Sayangnya, cerita rakyat yang merupakan salah satu elemen penting dalam khasanah kekayaan budaya Indonesia tersebut masih belum mendapatkan perhatian yang maksimal, baik dalam penelitian, preservasi, termasuk juga dalam usaha penyebaran dan mempopulerkan cerita rakyat kepada khalayak yang lebih luas.

Cerita rakyat dari waktu ke waktu semakin tergusur popularitasnya. Apalagi jika dibandingkan dengan produk-produk budaya populer yang memenuhi ruang-ruang media publik kita saat ini.

Indonesia, Laboratorium Cerita Rakyat yang Belum Terjamah

Membicarakan cerita rakyat dan upaya-upaya pelestariannya, Kultural.id berkesempatan berbincang-bincang dengan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, sastrawan, penulis buku Studi Sastra Lisan, yang juga merupakan pengajar di Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Yoseph Yapi Taum, Sastrawan, Pengajar Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Dok. Pribadi)

Cerita rakyat atau folklor, menurut Yapi, merupakan kebudayaan suatu kolektif atau kelompok masyarakat tertentu yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun di dalam lingkungan kolektif tersebut. Cerita rakyat mungkin memiliki versi yang berbeda-beda, baik dalam bentuk lisan maupun dengan contoh yang disertai gerakan atau alat bantu pengingat (mnemonic device).

“Dan, folklor ini ada banyak jenisnya. Termasuk di dalamnya adalah folk tale, folk literature, folk song, folk game, folk believe, folk dance, dan folk life. Cerita rakyat adalah mutiara yang mengandung berbagai kearifan lokal, model berpikir dan standar moral, serta sejarah lokal dengan berbagai cultural heroes yang dimilikinya,” demikian papar Yapi.

Yoseph Yapi Taum melanjutkan, Indonesia merupakan wilayah yang sangat kaya dan sangat terpelihara cerita-cerita rakyatnya, dari Sabang sampai Merauke.

Namun, kekayaan cerita rakyat tersebut belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.

“Kita menjadi seperti sebuah laboratorium cerita rakyat yang belum banyak dijamah. Bahkan, cenderung diabaikan begitu saja,” jelas Yapi.

Sementara itu, lanjutnya, impor dongeng dan produk-produk budaya dari luar negeri terjadi dengan sangat masif, terutama melalui media digital.

Hal ini berbahaya jika tidak diimbangi dengan melakukan upaya-upaya untuk menggali dan mengekspos dongeng, cerita rakyat, dan budaya dari bangsa kita sendiri.

“Akibatnya, di masa depan, kita akan kehilangan jiwa kebudayaan kita. Kita bisa-bisa hanya menjadi sebuah bangsa yang besar tetapi dengan jiwa yang compang-camping,” tutur Yapi.

Alih Media untuk Melestarikan Cerita Rakyat

Bangsa yang kuat, menurut Yoseph Yapi Taum, adalah bangsa yang memiliki jati diri, kepribadian, dan jiwa yang tumbuh dari keadaan bangsanya sendiri.

Indonesia sebagai sebuah bangsa, menurutnya, tidak bisa selalu mengimpor logika berpikir, standar norma, dan tokoh-tokoh pahlawan dari luar negeri.

“Kita tidak bisa terus-terusan mengimpor pahlawan-pahlawan yang diproduksi oleh luar negeri, Jepang, Korea, Amerika, Arab atau lainnya.  Anak-anak kita sekarang lebih suka tokoh-tokoh seperti Spiderman, Superman, dan lain-lain yang diciptakan luar negeri ketimbang Gatot Kaca, Sawerigading, Joko Tarub,  atau Lia Nurat. Kita bahkan sangat asing dengan cerita-cerita rakyat kita sendiri,” paparnya.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali cerita rakyat Indonesia, menurut Yapi, adalah dengan melakukan alih media.

Alih media, menurutnya, merupakan salah satu strategi penting dalam konsep ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Ekonomi kita harus mengarah ke sana. Itu berarti konsep ekonomi kreatif harus terus dikembangkan dan diwujudkan.

Yapi menambahkan, bahwa kita sangat kaya akan cerita rakyat. Namun, bahkan 80% dari kekayaan cerita rakyat tersebut belum terdokumentasikan dengan baik.

“Cerita-cerita itu perlu dialih-mediakan, didigitalisasi, dijadikan animasi. Sehingga cerita rakyat mampu menerobos batasan-batasan dan menjumpai audiens yang lebih luas.”

Bentuk kerja sama yang baik menyoal pelestarian cerita rakyat, menurut Yapi, pernah diwacanakan dengan mengusung konsep kerja sama Triple Helix.  Bentuk kerja sama tersebut melibatkan tiga sektor, yakni cendikiawan, dunia usaha, dan pemerintah.

Ketiga unsur tersebut menurutnya merupakan penggerak utama industri kreatif di Indonesia.

“Bagi saya, kerja sama triple helix adalah solusi yang baik. Wujudkan. Tidak hanya berhenti pada wacana,” tegas Yapi.

Ketika disinggung mengenai penyelenggaraan Kompetisi Dongeng untuk kembali membangkitkan ketertarikan publik terhadap folklor Indonesia, Yoseph Yapi Taum mengungkapkan kegembiraan dan dukungan.

Menurutnya, upaya-upaya mandiri memang harus dilakukan untuk mencapai kemajuan bersama. Pelestarian cerita rakyat merupakan usaha untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan, menjaga keutuhan dan kekuatan jiwa sebuah bangsa.

“Saya sangat mendukung upaya-upaya seperti Kompetisi Dongeng. Apalagi, masa pandemi membuat orang punya banyak waktu untuk menulis, mengkaji dokumen-dokumen. Sayembara dengan insentif yang baik akan mendorong kita kreatif, bergairah untuk melangkah maju,” demikian tutup Yoseph Yapi Taum.

Bagikan Artikel ini

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *