fbpx
Dunia Modern yang Sengsara

Dunia Modern yang Sengsara

Orang-orang Bloomington
Budi Darma
Penerbit Sinar Harapan (Cetakan 1, 1980)
Penerbit Noura Publishing (2015)

Budi Darma wafat karena Covid-19 pada 21 Agustus 2021, agaknya setelah mengetahui bahwa kumpulan cerita pendeknya, Orang-Orang Bloomington, diterbitkan terjemahan Inggrisnya oleh Penguin Classics tahun ini. Edisi Bahasa Inggris ini diterjemah oleh Tiffany Tsao, yang kepincut kumpulan cerpen ini pada 2016, dan sejak itu gigih mengupayakan penerjemahan dan penerbitannya di penerbit Penguin. Kata pengantar edisi Bahasa Inggris itu oleh salah seorang cendekia internasional dan novelis/cerpenis Indonesia yang karya-karyanya juga telah diterjemah ke Bahasa Inggris, Intan Paramadhita.

Tiffany membuktikan bahwa karya klasik modern Indonesia ini memang bagian dari khasanah sastra dunia (world literature). Penguin Classics menerbitkan karya-karya klasik modern dari Shakespeare, Charles Dickens, Virginia Woolf, George Orwell, Albert Camus, James Baldwin, hingga Zadie Smith. Berkat kegigihan Tiffany dan penerbit Noura, Budi Darma jadi orang Indonesia pertama yang karyanya masuk ke dalam lini penerbitan Penguin Classics ini. Dan memang pas, kumpulan cerpen ini adalah satu dari sedikit karya prosa Indonesia yang sepenuhnya “modern” dalam pengertian “klasik”.

Sebelum mengulik watak modern dari tujuh cerita pendek dalam kumpulan ini, saya ingin mengenang bagaimana buku ini membekaskan hal yang ganjil pada saya sejak pertama kali saya membacanya, pada waktu remaja dulu. Saya seakan ditabrak oleh sebuah dunia yang sangat mengganggu dan tak membuat nyaman. Khususnya, tawa keras Orez saat menunggu lift yang memecahkan kepala saya yang membacanya. Orez adalah salah satu judul cerita dalam buku ini, tentang seorang anak yang lahir cacat dari ibu yang lahir dari garis keturunan penuh cacat, Hester.

Dampak yang terasa nyata pada kepala, dan mungkin tubuh saya, dari cerita ini saya anggap sebuah pertanda kepiawaian Budi Darma menulis. Secara khusus, kepiawaiannya menuliskan deskripsi (pelukisan) yang membuat tokoh-tokoh dan dunia mereka terasa hidup. Saat aku-penutur, yakni ayah Orez dan suami Hester, menjumpai Hester, perhatikan bagaimana Budi Darma melukiskannya:

Saya mendapat kesan bahwa ayahnya belum begitu tua, tapi sorot matanya, kesuraman wajahnya, dan keriput-keriput kulitnya menyatakan bahwa dia sudah terlalu lama hidup di dunia dan siap untuk dijadikan mummi. Kalau tidak cepat-cepat diawetkan, tentu seluruh tubuhnya akan rontok. Wajahnya menunjukkan bahwa hidup yang dijalaninya bukanlah hidup yang enak. Setiap penderitaan meninggalkan keriput pada wajahnya.

Pelukisan semacam ini bertabur di sekujur buku. Kita bisa memilih acak, dan rata-rata akan menampakkan kekuatan yang sama, sebuah kekuatan prosa berwatak modern yang paripurna. Mari kita urai. Dalam rangkaian kalimat di atas, tampak sikap “objektif” dan aku-penutur, yang menggambarkan apa yang ia lihat dalam nada netral, apa adanya. Tapi, ini adalah sikap yang cukup menipu. Sebab, di balik tuturan yang nyaris klinis itu, ada penilaian-penilaian yang menggunakan metode penyimpulan deduktif dan abstraksi. Misalnya, kalimat “kesuraman wajahnya”.

Abstraksi yang saya maksud adalah, kurang lebih, penyimpulan yang padat akan sesuatu yang dilihat. Di tahap lebih lanjut, abstraksi juga berarti sebuah laku konseptualisasi. Artinya, apa yang ada dan dilihat, diolah jadi sebuah konsep tentang (atau makna dari) hal yang ada di hadapan dan dilihat. Aku-penutur melihat detail wajah ayah Hester, dan menuturkan kesimpulan-kesimpulannya, dan kemudian konseptualisasinya, bahwa wajah itu bermakna tertentu.

Pelukisan wajah ayah Hester dilanjutkan dengan abstraksi demikian:

Caranya memegang pipa hungcai menunjukkan bahwa dia terpaksa merokok meskipun dia jijik terhadap tembakau, dan menghambakan diri pada tembakau semata-mata untuk melupakan bahwa hidupnya adalah rangkaian kesengsaraan.

Inilah ciri dari watak modern (aliran “klasik”-nya) sebuah teks: sikap objektif (yang jelas ilusif, hanya bersifat seakan-akan, walau diyakini mutlak benar adanya), abstraksi, dan, bisa kita rasakan, kepercayaan akan keabsahan individualitas. Dalam hal prosa ini, “keabsahan individualitas” itu mengambil bentuk sebuah sosok penutur (narator) yang otoritatif. Apa yang ia pandang, apa yang ia persepsi, apa yang ia konseptualisasikan, ia abstraksikan, adalah benar demikian adanya.

Sebuah teks dan gagasan modern “klasik” (dalam arti, modernisme yang berkembang sejak Masa Pencerahan di Eropa Barat pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20) juga punya ciri lain: kepercayaan akan adanya sebuah narasi besar, kebenaran universal, kenyataan manusia yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Dalam buku ini, Budi Darma menulis dalam sebuah keyakinan bahwa ada sebuah keadaan universal dalam dunia modern yang ia hadapi saat itu. Keadaan itu adalah pencarian terus-menerus identitas-diri, yang selalu mengalami kesulitan karena keharusan berhubungan dengan orang lain (yang juga dalam pencarian tersebut).

Dalam pengantarnya untuk Orang-Orang Bloomington, Budi Darma menggambarkan proses menulis cerita-ceritanya:

Setelah selesai menulis cerpen-cerpen di Bloomington, saya sadar bahwa dengan cara, gaya, dan materi yang berbeda, saya tetap bercerita mengenai kekerasan hidup, seperti dalam cerpen-cerpen saya sebelumnya. Kesulitan orang yang berhubungan dengan sesamanya dalam mencari identitas dirinya tetap mewarnai cerpen-cerpen saya. Saya tetap mengamati hal-hal yang sama, mungkin karena konsep saya mengenai manusia sudah tegas dan jelas. Mungkin semenjak dulu saya menganggap bahwa pada dasarnya manusia selalu dalam proses mencari identitas dirinya, dan terjatuh-jatuh karena kesulitan berhubungan dengan sesamanya.

Saya mengenal karya-karya Budi Darma sebelumnya, yakni novel Olenka dan cerita pendek yang Panjang, Kritikus Adinan. Tampak memang yang digambarkan oleh Budi Darma tentang pencarian identitas dan “terjatuh-jatuh” karena sulitnya berhubungan dengan sesama. Pada Kritikus Adinan banyak pengulas pada masanya menyimpulkan adanya sebuah pengaruh kuat Kafka, khususnya cerpen The Trial, pada gaya dan ciri tematik cerita-cerita Budi Darma. Yakni, ciri absurdisme.

Tapi, jika Kafka membawa absurdisme cerita-ceritanya ke arah sebuah dunia yang fantastik, Budi Darma membawa absurdisme itu dalam buku ini ke arah sebuah dunia yang realistik. Cerita-ceritanya yang ia tulis pada 1990-an kembali ke dunia fantastik. Toh, sebagaimana Kafka, kepercayaan bahwa manusia-manusia modern adalah pada dasarnya manusia-manusia sengsara, menjadi intisari, Pusat, dari cerita-cerita di buku ini.

Dan dengan kemahirannya menyusun plot, membangun karakter/perwatakan para tokohnya, memilih diksi yang jitu, dunia sengsara itu jadi amat hidup dan membuat kita berada dalam sebuah kewajaran yang, aneh juga, membuat kita betah mengikuti. Gaya tuturan Budi Darma tidak mengandalkan kalimat-kalimat yang mendakik-dakik dan kosa kata yang jarang dipakai sehari-hari. Kalimat-kalimat Budi Darma jernih, susunannya sahaja saja, kosa-katanya pun tak yang biasa dipakai umum saja. Tapi, dari situlah Budi Darma menyajikan sebuah dunia yang terang benderang.

Karakterisasi juga adalah hal menonjol sebagai kepiawaian Budi Darma. Seorang lelaki tua tanpa nama yang gemar berpura-pura menembakkan pistolnya ke luar kamar, dan tiga wanita tua di sekitar si lelaki tua itu. Joshua Karabish yang mengenaskan karena penyakitnya. Keluarga M yang anak mereka suka berak di sembarang tempat. Orez yang baru lima tahun tapi bagai monster, dan Hester ibunya yang histeris. Yorrick yang baik dan jorok luar biasa. Nyonya Elberhart yang punya ego sangat besar yang membuatnya takut dilupakan jika ia mati. Charles Lebourne yang berwatak banyak di mulut para tetangganya.

Di samping karakter-karakter yang dijadikan judul atau diamati, semua aku-penutur cerita juga adalah karakter-karakter menarik. Budi Darma berhasil memunculkan kesan bahwa setiap aku-penutur itu punya hakikat diri yang ajeg, dunia dan orang-orang yang ia amatilah yang goyah. Pada saat sama, Budi Darma juga membangun para tokoh aku-penutur yang seringkali tak menyadari absurditas diri mereka sendiri.

Aku-penutur di cerpen pertama, Laki-Laki Tua Tanpa Nama, misalnya, tampak tak menyadari bahwa minatnya lelaki tua tetangga barunya itu adalah sebuah obsesi yang tak sehat. Kita, pembaca, akan terayun pada apa pun yang ditutur oleh si aku-penutur, dan lupa sejenak betapa problematik tindakan-tindakan si aku-penutur. Dengan gaya klinis dalam menutur, Budi Darma menjadikan berbagai monster dan tragedi serangkaian dongeng biasa tentang hidup yang biasa-biasa saja. Justru dalam kewajaran itu, kita merasakan sebuah dunia yang menekan, dengan bayang-bayang maut selalu perlahan merayap atau mengapung di udara cerita, menghantui.

Cerita-cerita Budi Darma, khususnya di buku ini, panjang-panjang. Sebuah antitesa dari gagasan bahwa cerpen harus sependek mungkin. Gagasan yang lahir dari sebuah tradisi “sastra koran” yang selalu mengasumsikan bahwa ruang untuk sastra dalam koran dan majalah sangatlah terbatas (tak sampai satu halaman penuh koran). Prosesnya pun panjang nian, bisa jadi bertahun-tahun. Hasilnya memang tampak: inilah kumpulan cerita yang dimasak sempurna, dan salah satu kumpulan cerpen Indonesia terbaik yang pernah ada.

Penerbitan edisi Bahasa Inggris Orang-Orang Bloomington oleh Penguin Classics bisa jadi membuktikan “ramalan” Ikranegara (aktor teater dan penyair terkemuka pada 1970-an hingga 1980-an, masih main film di Laskar Pelangi) pada 1980, di sampul belakang buku ini: “… kalau di-Inggris-kan, saya yakin kumpulan cerpen ini akan punya pasaran baik di masyarakat luar negeri yang berbahasa Inggris.” Saya terharu, membayangkan Budi Darma masih sempat melihat cover edisi Penguin Classics buku ini, yang digambar oleh Tom Gauld, sebelum ia wafat. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.