fbpx
Eko Nugroho

Eko Nugroho

Eko Nugroho merupakan sosok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Eko Nugroho lahir dan besar di Yogyakarta, sebuah kota kaya tradisi yang membentuknya menjadi seniman dengan kemampuan memadukan unsur lokal dan budaya populer. Selain itu, setiap karya yang dihasilkannya juga begitu kritis menyoroti dinamika sosial, ekonomi, politik di lingkungan sekitar. Karakter karya Eko Nugroho itu sendiri terinspirasi oleh perjalanan kehidupan berkarya dalam dirinya yang didominasi oleh street art, graffiti, dan komik. Nama Eko Nugroho semakin diperhitungkan di tingkat global ketika ia berpartisipasi pada Lyon Biennal (2009), 55th International Art Exhibition of the Venice Biennale (2013), dan melakukan kolaborasi bersama brand fashion internasional Louis Vuitton (2013).

Eko Nugroho lahir di Yogyakarta pada tahun 1977. Ia menyelesaikan studinya di jurusan Seni Lukis, ISI Yogyakarta, tahun 2006. Eko merupakan salah satu seniman jalanan Indonesia yang menggunakan mural sebagai cara untuk mengkritik situasi sosial, khususnya pada masa pasca-jatuhnya rezim Soeharto. Matang pada saat transisi demokrasi di Indonesia, Eko terlibat secara mendalam dengan praktik kebudayaan masyarakat di masa itu dan berkomitmen dalam membuat komentar-komentar sosial-politik dalam karyanya, yang kerap cerdas namun ironis dan terkadang provokatif tanpa kehilangan selera humor. Dengan memunculkan jukstaposisi antara gambar dan teks-teks yang kritis, ia mencoba mengajak anak muda Indonesia untuk lebih memahami isu politik. Pada tahun 2000, ia memulai proyek zine kolaboratif, Daging Tumbuh, yang kemudian berkembang menjadi salah satu gerakan seni yang menjadi kendaraan baginya untuk mencapai karirnya saat ini. Eko juga aktif terlibat dalam berbagai residensi seni, pameran kelompok maupun tunggal, serta proyek-proyek seni khusus di seluruh penjuru dunia, sambil terus bertahan pada jati dirinya.

Karya-karya Eko berlabuh pada lingkungan perkotaan dengan ketegangan tertentu yang berada di antara Indonesia dan Barat, lokal dan global, seni murni dan jalanan, serta pertaruhan politik dan refleksi personal. Tinggal di sebuah negara yang suasananya dipenuhi gejolak politik selama puluhan tahun dan berangsur makin terbuka juga berkontribusi pada permainan katanya yang lucu dan kritis. “Orang-orang tersesat dalam kebebasan dan saya menjadi tertarik pada situasi di mana terdapat semacam latar belakang sosial dan politik dalam seni,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.