fbpx
Kehidupan Pribadi Pramoedya Ananta Toer

Kehidupan Pribadi Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer Bersama Keluarga 7 Juli 1993/Dokumentasi PDS H.B. Jassin

 

Pernikahan dengan Arfah Iljas

Setelah pemberontakan Madiun pada tanggal 3 Desember 1949 Pram dibebaskan bersama kelompok tahanan yang lain karena kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB). Konferensi itu juga menandai berkahirnya penjajahan Belanda. Selama di dalam penjara, Pram berkenalan dan jatuh cinta dengan Arfah perempuan yang setia datang menjenguk dan merawatnya. Pada tahun 1950, Pramoedya Ananta Toer resmi mempersunting Arfah Iljas.

 

Ayah Tercinta Tutup Usia

Baru beberapa hari menikah, Pram mendapat kabar bahwa ayahnya sakit parah di Blora. Bersama istrinya, Pram pulang menjenguk ayahnya. Tak lama setelah kedatangan Pram, ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Setelah ayahnya meninggal Pram mengambil alih tanggungjawab sebagai anak pertama, mengurus adik-adiknya.

 

Mendirikan Literary and Features Agency Duta dan Pergi ke Belanda

Pada tahun 1950 – 1951, kembali dari Blora, Pram sempat bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka (Jakarta) dan memenangkan sayembara roman lewat karya Perburuan (1950). Pada akhir tahun 1951, Pram meninggalkan Balai Pustaka karena tidak puas dengan cara kerja pimpinan di sana. Januari 1952 mendirikan dan memimpin Literary and Features Agency Duta. Pada mulanya, kemampuan dan kegiatan lembaga ini cukup kuat, tetapi lama-kelamaan mulai mengalami kegoncangan karena kurangnya modal dan tidak ada perhatian dari masyarakat Indonesia sendiri. Pada bulan Septermber 1952, Pramoedya bersama dengan Basuki Resobowo mengambil inisiatif mendirikan “Gelanggang Kesenian”, sebuah badan kesusastraan. Pada bulan Mei 1953, Pramoedya mendapat tawaran berkunjung ke negeri Belanda untuk mengikuti program pertukaran para sastrawan Asia dan Eropa dari Sticusa Yayasan Kerjasama Kebudayaan Belanda Indonesia. Negeri kincir angin mengingatkan wajah penjajah yang mengeksploitasi negerinya. Ada semacam keadaan yang kontras antara negerinya yang sedang membebaskan diri dengan keadaan Belanda yang sudah menjadi negeri yang mapan. Sewaktu berada di Belanda, Pramoedya menulis novel Midah Si Manis Bergigi Emas, dan menerima hadiah sastra dari Badan Musyawarah Kesenian Nasional (BMKN) untuk antologi cerpennya, Cerita dari Blora. (Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia karya Prof. Koh Young Hun)

 

Berpisah dengan Arfah Iljas

Pada bulan Januari 1954, Pram kembali ke Tanah Air, tepat pada waktu terjadinya pemotongan anggaran belanja PPK (Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan), yang mengakibatkan krisis di dunia penerbitan. Literary and Features Agency Duta tidak dapat dihidupkan lagi. Ini membuat Pram kembali berhadapan dengan kesulitan hidup yang berpengaruh pada keadaan keuangan rumah tangganya. Konflik demi konflik berdatangan hingga berujung pada bubarnya rumah tangga Pramoedya dengan Arfah Iljas. (Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia karya Prof. Koh Young Hun)

 

Menikah dengan Maemunah Thamrin

Setahun berikutnya pada tahun 1955, Pram menemukan pendamping yang  baru, Maemunah Thamrin. Perempuan ini mendampingi Pram hingga wafat. Maemunah datang dari keluarga orang berada. Ayahnya adalah Haji Abdullah Thamrin, saudara dari M.H. Thamrin, salah satu tokoh politik Indonesia. Setelah menikah, Pram tinggal bersama Maemunah di Rawasari. Di rumah  sederhana ini Pram kembali menulis. Pernikahan Pram bersama Maemunah dianugerahi lima orang anak. Astuti Ananta Toer (Titi) lahir tahun 1956, Ariana Ananta Toer (Rina) lahir tahun 1958, Setiani Rakyat Ananta Toer (Rita) lahir tahun 1960, Tatiana Ananta Toer (Ian) lahir tahun 1963, dan Yudhistira Ananta Toer (Yudi) lahir tahun 1965.

Artikel terkait Pramoedya Ananta Toer Lainnya

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Leave a Reply

Your email address will not be published.