fbpx
Orang-orang Tegalurung: Cerita Minanto tentang Novel ‘Aib dan Nasib’

Orang-orang Tegalurung: Cerita Minanto tentang Novel ‘Aib dan Nasib’

Novel Aib dan Nasib karya Minanto menjadi buah bibir di kalangan penikmat sastra. Sebelum diterbitkan oleh Marjin Kiri, novel ini menyabet gelar terbaik dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019. Kemudian, buku yang sama juga diganjar penghargaan Buku Prosa Pilihan Tempo 2020.

Berlatar Desa Tegalurung, Indramayu, Jawa Barat, buku ini menghadirkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan “kelas bawah” yang saling jalin kelindan, berbenturan, dengan kemalangan, juga kemarahan masing-masing.

Menurut tuturan Minanto, sang penulis, novel Aib dan Nasib berangkat dari pengalaman orang-orang yang dekat dengan dirinya; sebagian berasal dari ingatannya tentang Tegalurung semasa ia kecil, tentang perisakan yang pernah ia lakukan dan alami, tentang tetangga-tetangga yang sering membuatnya kesal sekaligus prihatin, tentang sesuatu yang disebut “aib”—yang memalukan—yang enak dibicarakan jika menyangkut orang lain tetapi tidak enak jika menyangkut diri sendiri.

“Lebih daripada itu, saya mempersoalkan apakah akan tetap ada sebutan “aib” jika semua orang memilikinya, sekecil apapun itu, dan dapat berlaku jujur,” terang Minanto.

Sebetulnya, novel yang telah diterbitkan tersebut telah berubah wujud dari konsep yang semula dibayangkan Minanto ketika membuat ragangan cerita. Mula-mula, ia hendak bercerita tentang sepasang perempuan dan lelaki gila, yang berada di luar norma, yang kemudian saling jatuh cinta. Mereka adalah Boled Boleng dan Uripah, dua tokoh di antara tokoh-tokoh lain yang terdapat dalam cerita ini.

Namun, seiring proses penulisan dan pengembangan cerita, konsep tersebut berubah; latar belakang kedua tokoh ini dibentangkan dan tokoh-tokoh lain muncul dan ikut mengambil peran. Jadi, menurutnya, mengapa tidak menuliskan kegilaan orang-orang satu desa sekalian?

“Sebetulnya, saya bingung setiap kali harus menceritakan pesan dalam Aib dan Nasib. Saya pada dasarnya setuju dengan sebagian besar tafsir pembaca. ­Seandainya novel ini berangkat dari sebuah pesan tunggal, mungkin saya bisa menerangkannya dengan mudah. Namun bagi saya, novel ini berangkat dari dorongan untuk menceritakan hal-hal kecil tentang orang-orang desa yang hidupnya dirundung malang,” papar Minanto.

Novel Aib dan Nasib Karya Minanto, Marjin Kiri, 2020 (Dok. Marjin Kiri)

Ketika konsep awal cerita Aib dan Nasib mengalami perubahan, Minanto mengaku menulis sembari mengingat neneknya yang telah berpulang sejak delapan tahun lalu. Ketika masih anak-anak dan tinggal bersama orang tua dari ibunya di Tegalurung, Minanto sering diajak kondangan bersama sang nenek, baik acara sunatan atau kawinan, mulai ke tetangga sebelah rumah sampai ke tetangga ujung desa. Dalam perjalanan-perjalanan berjalan kaki untuk kondangan tersebut, sang nenek selalu bertukar sapa dan berbincang-bincang dengan orang-orang yang berpapasan dengan mereka.

Dalam benak Minanto kecil, ia bertanya-tanya, apakah neneknya mengenal semua orang di desa mereka. Terlebih lagi, sang nenek selalu menambahkan cerita-cerita tentang orang-orang tersebut dengan mengatakan, misalnya, ‘perempuan yang itu masih sedulur dengan kita,’ atau ‘lelaki yang itu adalah saudara si anu dan si anu masih sedulur dengan kita.’

“Saya melihat kembali kehidupan desa melalui mata nenek saya, melihat desa dari watak orang-orangnya, melihat desa dari tragedi yang dialaminya, dan saya belajar darinya. Dengan demikian, saya memusatkan perhatian untuk menuliskan kehidupan orang-orang desa yang saling mengenal dan yang saling terkait satu sama lain,” kenangnya.

Untuk menuliskan kisah dengan tokoh yang banyak dalam Aib dan Nasib, Minanto merasa perlu bersikap adil dalam membagi porsi narasi. Ia yang semula memusatkan perhatian kepada tokoh Boled Boleng dan Uripah, harus membagi porsi dengan tokoh-tokoh lain agar berimbang. Barulah kemudian ia menuliskan kehidupan masing-masing tokoh tersebut dengan bentuk narasi terpotong-potong, seperti dalam O milik Eka Kurniawan.

“Seorang teman pernah bertanya apakah saya menuliskan cerita-cerita dalam Aib dan Nasib itu secara linear sebelum dipotong-potong dan diacak-acak? Saya menjawab tidak karena saya menuliskan draft pertama novel itu sebagaimana yang tercetak sekarang, dan tidak ada fragmen yang dipindah-pindahkan sejak awal penulisan, ya begitulah, berantakan,” terang Minanto sembari terkekeh.

Manakala perbincangan merambah ke penulis-penulis pendahulu yang memberi pengaruh dalam tulisan-tulisannya, Minanto mengaku sangat mengagumi karya-karya Budi Darma, terutama Orang-orang Bloomington. Bahkan, menurutnya, sebelum tercetus judul Aib dan Nasib, ia terlebih dahulu berpikir untuk memberi judul Orang-orang Tegalurung. Namun, ide itu urung diwujudkan karena menurutnya akan ramai saja novel dengan judul serupa.

“Saya senang dengan Orang-Orang Bloomington karena novel itu membicarakan hal-hal intim, mendalam, interpersonal, dan saya kira dapat menyentuh watak manusia yang sering kita ingkari. Setelah membaca kumpulan cerita itu, saya bertanya-tanya bagaimana jika latar tempat Bloomington dipindahkan ke tempat lain? Bagaimana jika saya menuliskan watak tokoh Orang-orang Bloomington ke dalam latar tempat yang dekat dengan saya? Barangkali itulah salah satu alasan mengapa saya menulis cerita orang-orang Tegalurung,” ungkap Minanto.

Selain Budi Darma, Minanto juga menggemari karya-karya Ahmad Tohari, teristimewa cerita Senyum Karyamin. Ia mengagumi bagaimana latar pedesaan dilukiskan dan dan bagaimana latar tersebut berkontribusi terhadap konflik dan perwatakan, bagaimana konflik batin muncul dari tokoh-tokohnya yang bersangkutan dengan alam desanya, tempat tinggalnya dan profesinya. Selain itu, Minanto juga membaca hampir semua karya Eka Kurniawan.

“Dan, apa yang saya pelajari dari karya-karyanya adalah bahwa ide dan medium (bahasa, teknik, cara bertutur) itu sama-sama penting,” imbuhnya.

Marjin Kiri tentang Aib dan Nasib

Menurut Pradewi Tri Chatami, dari penerbit Marjin Kiri, hasil akhir Aib dan Nasib yang telah diterbitkan tidak berbeda jauh dari draft semula yang dikirimkan Minanto.

Nggak banyak yang berubah. Bahannya memang sudah bagus. Yang diubah ada kayak selip plothole aja, sih. Pertimbangan kami kalau ngedit biasanya di luar urusan gramatikal ya logika bangunan cerita gitu deh,” terang Pradewi.

Menurutnya, pihak penerbit bertemu dengan Minanto ketika pengumuman Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019. Dari sana, pihak Marjin Kiri menyampaikan ketertarikan untuk menerbitkan Aib dan Nasib dan Minanto setuju.

Menurut Pradewi, yang menonjol dari Aib dan Nasib dan membedakan Minanto dari penulis-penulis yang lain adalah teknik menulis cerita dan isi ceritanya sama-sama baik.

“Untuk beberapa orang mungkin akan kerasa bleak dan raw, tapi hidup emang kayak gitu ‘kan?” demikian kata Pradewi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.