fbpx
Pameran Present Continuous/Sekarang Seterusnya di Museum MACAN

Pameran Present Continuous/Sekarang Seterusnya di Museum MACAN

Muhlis Lugis, Sangiang Serri Bersemayam di Lumbung (2021). Cetakan cukil kayu di atas kanvas 100 x 150 cm. Koleksi milik perupa. Foto: Museum MACAN

Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara (Museum MACAN) memulai proyek Present Continuous/Sekarang Seterusnya pada tahun 2021 sebagai tanggapan atas pandemi COVID-19 di Indonesia dan memulai sebuah wadah untuk berbagi informasi dan riset atas komunitas artistik dari seluruh penjuru nusantara.

Lima ko-kurator yang ditunjuk, yakni Anwar Jimpe Rachman, Arie Syarifuddin, Elia Nurvista, Putra Hidayatullah, dan Rizki Lazuardi bersama tim Kuratorial Museum MACAN memulai sejumlah program wicara, diskusi, dan program daring yang menghubungkan publik dari berbagai kalangan dalam percakapan penting mengenai situasi terkini praktik seni kontemporer di Indonesia.

Arifa Safura & DJ Rencong, Bayangan yang Menari. Cat akrilik di atas kanvas, televisi retro, pengeras suara, lampu berdiri. Dimensi beragam. Koleksi milik perupa. Foto: Museum MACAN

Present Continuous/Sekarang Seterusnya telah membuka untaian percakapan yang kritis dan menghubungkan perupa dan komunitasnya dari berbagai penjuru Indonesia dengan membagikan perspektif dan praktik yang beragam.

Museum MACAN membuka pameran Present Continuous/Sekarang Seterusnya secara fisik pada Sabtu, 15 Januari 2022. Pameran akan berlangsung sampai 15 Mei 2022 dan dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan dan keamanan ketat.

Diluncurkan sejak September 2021, pameran ini merupakan sebuah proyek yang diinisiasi dan diorganisir oleh Museum MACAN bekerjasama dengan lima organisasi seni kontemporer Indonesia, yaitu Biennale Jogja, Indeks, Jatiwangi art Factory, LOKA, dan Makassar Biennale.

Menurut Direktur Museum MACAN dan Direktur Proyek Present Continuous/Sekarang Seterusnya Aaron Seeto, pameran ini merupakan salah satu cara yang dilakukan sebagai respon terhadap keterbatasan-keterbatasan yang terjadi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

“Pandemi Covid-19 membuat kita membayangkan cara-cara baru untuk menghubungkan seniman dengan publik, dan mendorong pemikiran yang berbeda terhadap riset dan kolaborasi.

Selama dua tahun terakhir, melalui percakapan dengan kolega-kolega kami di Indonesia dan seluruh dunia, kami berbagi cerita dan gagasan tentang cara bekerja dan bagaimana agar dapat terus bergerak maju.

Kami menyadari bahwa kolaborasi organisasional, di mana kami mempertemukan kurator-kurator yang bekerja dari lingkungan dan kota mereka masing-masing, dapat menjadi cara untuk melampaui keterbatasan struktural ini. Inilah yang membawa kami kepada Present Continuous/Sekarang Seterusnya,” demikian disampaikan Aaron Seeto.

Udeido Collective, Transformasi Koreri (2021). Media Campuran. Dimensi beragam. Koleksi milik perupa. Foto: Museum MACAN

Unit Pelaksana Terrakota Daerah (UPTD), 9 Naga Jebor (2021). Produk terakota dari sembilan pabrik terakota di Jatiwangi. Dimensi beragam. Koleksi milik perupa. Foto: Museum MACAN

Pameran ini merupakan puncak dari kolaborasi dan riset bersama yang telah berlangsung hampir selama satu tahun. Melibatkan empat perupa dan dua kolektif perupa yang telah dipilih oleh lima ko-kurator.

Mereka yang memamerkan karya dalam pameran ini adalah Arifa Safura & DJ Rencong (Banda Aceh),  Mira Rizki (Bandung) , Kolektif Udeido (Jayapura), Muhlis Lugis (Makassar), dan Unit Pelaksana Terrakota Daerah (Majalengka).

Pameran ini mengeksplorasi bagaimana perupa melakukan navigasi seputar memori kolektif, sejarah bunyi dan hubungannya dengan gagasan lingkungan sekitar, mitologi dan keanekaragaman hayati, serta industri kreatif yang dipimpin perupa, yang menghasilkan perubahan kebijakan secara nyata melalui pembangunan ekonomi mikro.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.