fbpx
Pameran Re(con)sistance: Perlawanan Terus-menerus Melalui Karya

Pameran Re(con)sistance: Perlawanan Terus-menerus Melalui Karya

Dilatari semangat untuk bangkit dan senantiasa menemukan solusi untuk terus bertahan dan merayakan kehidupan bagaimanapun keadaannya, empat perupa menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk Re(con)sistance di KOI Cafe Gallery, Jakarta,  19 Desember 2020 hingga 2 Januari 2021.

Pameran yang dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan ini melibatkan para seniman yakni Damar Sasongko, Farid Sycumbang, Hilmi Faiq, dan Rahardi Handining.

Re(con)sistance merupakan penggabungan dari dua kata yakni Resistance yang berarti perlawanan, dan Consistance yang membawa makna konsistensi. Dengan menggabungkan dua kata ini, para seniman ingin menularkan semangat perlawanan terhadap himpitan kesulitan yang sedang terus menerus kita alami.

Farid Sycumbang, Semesta (series), mixmedia, 25 x 20cm – 2020

Menurut Farid Sycumbang, penggagas awal pameran, perlawanan positif ini adalah tantangan bagi kita semua, untuk mampu bergandengan tangan dan bangkit bersama, saling peduli, konsisten melakukan kegiatan positif secara terus-menerus dengan menggerakkan sendi-sendi kreativitas. Karena,  konsistensi berkreasi akan memunculkan gagasan-gagasan baru yang akan membawa harapan-harapan baru.

“Dalam situasi sekarang, dengan terpaan pandemi yang kita tidak tahu kapan akan berakhir, kita mesti mampu untuk melahirkan karya-karya baru. Memanfaatkan bahan apapun yang bisa kita temui di sekitar kita. Terutama untuk menjaga api semangat agar terus menyala, dan dengan demikian semangat itu bisa kita tularkan kepada orang-orang lain di sekitar kita,” demikian papar Farid.

Farid Sycumbang, Esok Lebih Baik (series), mixmedia, 39 x 80cm, 2020

Dalam Re(con)sistance karya-karya yang dipamerkan Farid merupakan representasi semangatnya tersebut. Ia menggabungkan material yang ditemui di sekitar, yang sudah tidak terpakai dan mengaplikasikannya ke dalam karya.

“Karya-karya ini adalah representasi keseharian saya, di lingkungan masyarakat perkotaan yang aktif. Dan dalam keadaan seperti sekarang, harus mau dan mampu memanfaatkan apa saja yang bisa ditemui di sekitar kita untuk diubah menjadi hal yang bermanfaat, menjadi karya,” imbuh Farid.

Damar Sasongko, I’ll be waiting, woodcut print – 40 x 39 cm

Tidak jauh berbeda, Damar Sasongko, yang memamerkan karya-karya woodcut dan linocut print dalam gelaran ini, menyambut baik ajakan untuk berkarya dan berpameran bersama karena baginya berkomunitas adalah salah satu jalan yang harus ditempuh agar karya menjadi lebih baik dan mampu mencapai publik yang lebih luas.

“Saya diajak Mas Rahardi dalam pameran ini. Beliau merasa, di masa sulit seperti sekarang kita tidak boleh melempem. Kita harus tetap produktif dan memang seharusnya produktif,” ujar Damar tentang keterlibatannya dalam pameran Re(con)sistance ini.

Damar Sasongko, Bologna Dua Waktu (Maghrib), linocut print, 40 x 39,5 cm

Ketika dikonfirmasi, seniman Rahardi Handining membenarkan bahwa ia tadinya berkeinginan untuk bisa mewadahi rekan-rekan seniman yang lain untuk berkarya di studio bersama.

Namun, karena pandemi dan segala dampak yang ditimbulkannya, rencana tersebut tertunda. Pameran ini adalah salah satu langkah untuk menjaga agar semangat berkarya tetap menyala.

“Kami berpikir untuk membuat karya-karya yang ringan saja, kemudian dipamerkan. Beruntung, KOI Gallery bersedia untuk menyediakan ruang, meskipun tanpa acara pembukaan karena pertimbangan keselamatan,” begitu ujar Rahardi menjelaskan.

Dalam pameran ini, Rahardi di antaranya menampilkan karya White Road yang merupakan serial terdiri dari empat buah lukisan.

White Road mengajak kita kepada sebuah alternatif penyadaran. Kejadian di sekitar kita, pandemi Covid-19 saat ini. Alam mengajak kita melalui jalan putihnya untuk mengingatkan kita, cara berpikir, cara menentukan sikap yang baru, tindakan nyata baru, tentunya pada wilayah yang positif,” papar Rahardi.

Sementara itu, seniman Hilmi Faiq mengungkap bahwa pameran ini berawal dari kegelisahan yang dirasakan masing-masing seniman dan berupaya mencari jalan keluar dari kegelisahan tersebut.

“Ada benang merah dari kegelisahan ini, bahwa selama pandemi, kita tidak bisa hanya mengeluh karena dapat memunculkan energi negatif. Maka kami berpikir untuk melakukan hal sebaliknya, melakukan hal-hal yang memberi getaran energi positif kepada orang lain,” terang Hilmi.

Menurut Hilmi, sebagai seniman, salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan terus berkarya dan terus aktif menghasilkan karya-karya yang bernada positif. Karya-karya yang ditampilkan dalam Re(con)sistance dibuat karena menyaksikan kenyataan bahwa pasca mengalami ketakutan di fase awal pandemi, warga mulai keluar rumah dan menggalang kepedulian. Dengan segala keterbatasan, ada gerakan-gerakan yang dilakukan untuk saling membantu sesama.

“Saya seperti melihat cahaya terang, pandemi ini memunculkan kembali watak altruistik, watak saling menolong. Dan, pada saat yang sama, beberapa teman yang terjangkit positif virus Covid-19 menunjukkan bahwa betapa mereka tidak menyerah, terus berjuang,” lanjut Hilmi.

Menurutnya, semangat tersebut yang ia tuangkan ke dalam karya Tolong-menolong, Spirit of Life, Daya, dan Hope yang ikut dipamerkan dalam Re(con)sistance.

“Hope bercerita bahwa dalam setiap keruwetan hidup, selalu ada jalan terang. Keruwetan saya gambarkan di bagian bawah, sementara cahaya merah muda di atas. Bahwa harapan itu harus diraih, tidak jatuh dari langit,” demikian dipaparkan Hilmi.

Rahardi Handining, White road #1, acrylic , oil on canvas 50 x 50 cm, 2020

 

Rahardi Handining, White road #4, acrylic, oil on canvas, 50 x 50 cm, 2020

 

Hilmi Faiq, Hope, mix media on paper A3, 2020

 

Hilmi Faiq, Daya, acrylic on paper A3, 2020
Leave a Reply

Your email address will not be published.