fbpx
Periodisasi Komik Indonesia dalam Festival Cergam “Komik Itu Baik”, Dia.Lo.Gue Artspace

Periodisasi Komik Indonesia dalam Festival Cergam “Komik Itu Baik”, Dia.Lo.Gue Artspace

Dia.Lo.Gue dalam balutan dekorasi Festival Cergam “Komik Itu Baik”

 

Festival Cergam “Komik Itu Baik”

Festival Cergam bertajuk “Komik Itu Baik” berlangsung dari tanggal 28 September – 20 Oktober 2019 bertempat di Dia.Lo.Gue Artspace, Jl. Kemang Selatan. No.99A, Bangka, Kec. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pameran berbasis arsip periodisasi komik Indonesia dari mulai era pelopor tahun 1925 – 1953 hingga era digital di hari ini dipersembahkan untuk mendiang Arswendo Atmowiloto.

Arswendo sejak tahun 1970-an punya andil di industri komik. Dia dinobatkan sebagai pelopor studi budaya populer Indonesia. “Arswendo Atmowiloto ketika tahun 1980 menulis seri tulisan di harian Kompas, bertajuk “Komik itu Baik” itu visioner dan dari tulisan itu lahirlah minat terhadap komik Indonesia yang baru. Salah satunya kemudian direspon oleh Seno Gumira yang merasa senang dengan seri tulisan itu dan mengajak membuat seminar dan pameran di Yogjakarta, pertama kali di tahun 1980 – 1981-an.”, kata Hikmat Darmawan, Kurator Pameran “Komik Itu Baik”.

‘Komik Itu Baik’ Persembahan untuk Arswendo Atmowiloto/Lutfi Dananjaya

Dia.Lo.Gue Artspace menjadi saksi sejarah, diselenggarakannya pameran “Komik Itu Baik”, atmosfer suasana tempat ini dipenuhi oleh poster, pamflet dan wallpaper dekorasi bertemakan Komik Indonesia. Bukan hanya mengenai tampilan visual, pameran ini memberikan semangat bagi para pecinta komik, kolektor dan pegiat komik untuk lebih dekat dengan dunia komik dan alur periodisasi komik Indonesia.

Ketika berdiskusi langsung, Hikmat Darmawan mengungkapkan, “Periodisasi saya untuk komik berdasarkan perkembangan sosiokultural bukan hanya dari perkembangan Industri, saya membagi 4 periodisasi Komik Indonesia.”

Periode Pertama Komik Indonesia: 1925 – 1953

Hikmat mengatakan, “Pada tahun 1924 komik di Indonesia masih berupa gubahan dari komik-komik Eropa yang digambar ulang atau ada juga yang tidak digambar ulang tapi teksnya dituliskan ulang.” Baru pada tahun 1931, Put On komik strip Indonesia modern pertama karya Kho Wan Gie terbit di majalah mingguan Sin Po. (tirto.id)

Sumber: Koleksi Taman Bacaan Dania

Komik karya Kho Wan Gie ini diciptakan saat masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia mengalami kegelisahan karena rasa dilema dalam pencarian identitas. Put On pun hadir sebagai Tionghoa peranakan yang menganggap Indonesia sebagai tanah airnya yang sejati. Ia pun secara antusias berusaha menjadi Indonesia. Sedikit jenaka, ketika belajar menjadi Indonesia itu, Put On sering berakhir konyol. (interaktif.kompas.id)

Sumber: Koleksi Alex Wienarto

Kemudian Hikmat melanjutkan, ada satu satu komik yang baru ditemukan beberapa tahun yang lalu. Komik yang dicetak oleh penerbit Balai Pustaka pada tahun 1951 berjudul Hangtuah karya Nasjah Djamin. “Tidak banyak yang tahu Nasjah Djamin mengawali karirnya sebagai perupa dan komikus sebelum dirinya menjadi sastrawan, orang banyak mengenal dirinya sebagai penulis sastra yang mendapat penghargaan”, papar Hikmat.

Sumber: Koleksi Akhmad Makhfat

Periode Kedua Komik Indonesia: 1954 – 1966

Komik berbentuk buku pertama kali muncul pada tahun 1954 yaitu karya R.A. Kosasih dan John Lo yang diterbitkan oleh Melodie. “Keberhasilan menciptakan pasar membuat periode ini menjadi tonggak baru menandai kelahiran pertama industri buku komik di Indonesia yang sebelumnya lekat pada media massa”, papar Hikmat. Penerbit Melodie di tahun-tahun periode ini mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya Industri komik, terutama diawali di kota Bandung, ibukota komik Indonesia ketika itu.

Poster Komik Sri Asih karya RA Kosasih dalam Festival Cergam ‘Komik Itu Baik’/Lutfi Dananjaya

Hikmat melanjutkan, “Raden Ahmad Kosasih bisa dikatakan sebagai bapak Komik Indonesia karena karyanya menjadi penggerak bagi Industri Komik di Indonesia. Ketika itu, singkat kata salah satu fakta yang terkubur dalam sejarah adalah Sri Asih menjadi salah satu komik yang difilmkan, menjadi adaptasi komik superhero pertama yang difilmkan dan film superhero pertama pada tahun 1950-an”.

Formasi Awal Industri Cergam di Indonesia/Lutfi Dananjaya

Periode Ketiga Komik Indonesia: 1967 – 1993

Pada periode ketiga ini menurut Hikmat, tema-tema yang dominan diangkat ke dalam komik seperti: Silat, Roman dan Superhero. Ada pembeda yang terjadi pada ukuran komik di periode ini. “Pada periode ini formatnya kurang lebih seukuran kertas A5 seperti komik Inggris yang memiliki dua panel hitam dan putih, untuk halamannya bisa sampai ribuan dalam satu cerita”, tutur Hikmat.

Pada periode ini tema-tema yang dominan dipelopori dan dimotori oleh komikus-komukis seperti Jan Mintaraga (Komik Roman), Ganesh TH (Komik Silat) dan Hasmi (Komik bertemakan Superhero). Khusus untuk tema Superhero, karakter-karakter yang hadir sedikit banyak dipengaruhi oleh komik-komik rilisan Amerika. Akan tetapi, gaya Amerika ini dipadu dengan cerita dan nuansa lokal, membuat komik-komik karya komikus lokal digandrungi masyarakat.

Sumber: Koleksi Alex Wienarto

Diawali pada tahun 1967 kehadiran komik-komik seperti Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung & Krakatau karya Ganes TH. Gundala Putra Petir karya Hasmi. Godam karya Wid NS. Labah-labah Merah & Macan Kumbang karya Kus Bramiana. Panji Tengkorak karya Hans Jadalara. Jaka Sembung karya Djair. Golok Setan karya Mansyur Daman dan Komik-komik Roman yang dipelopori oleh Jan Mintaraga, Zaldy Armendaris dan Simon Iskandar yang memulai genre ini pada 1965.

Sumber: Koleksi Alex Wienarto

 

Sumber: Koleksi Alex Wienarto

Pada periode ini komik dan tokoh Si Buta dari Gua Hantu rekaan Ganes sangat dikenal dan melekat di tengah masyarakat. Tak hanya di komik, Tokoh Si Buta yang legendaris ini juga sukses di adaptasi dalam sejumlah film. Dalam khazanah budaya pop, pendekar bernama asli Barda Mandrawata itu digadang sebagai tokoh silat Nusantara yang pertama. (tirto.id)

Sumber: kolesi Ibu Taukenio

Diangkatnya Komik Si Buta dari Gua Hantu dan Panji Tengkorak ke layar lebar, pada tahun 1970 dan 1971, semakin mempertegas kejayaan komik Indonesia ketika itu.

 

Fase Kedua Industri Cergam di Indonesia/Lutfi Dananjaya

Pada tahun di antara periode ini di tahun 1980 – 1992, banyak yang mengatakan dunia komik mati, tapi Hikmat tidak setuju dengan hal itu, “saya tidak sepakat banyak orang juga tidak sepakat karena masih ada yang memproduksi. Komik Underground lahir di tahun 1993, Proto Underground hadir di periode ini, salah satu contohnya adalah fenomena komik Surga Neraka, komik ini dibuat di industri rumahan bukan melalui perusahaan penerbitan yang mapan”.

Dilanjutkan oleh Hikmat, “Komik Taman Firdaus awalnya sekali hadir sekitar tahun 1955, namun menjadi genre yang sangat banyak judulnya baru di tahun 1970-an. Awal mulanya Komik ini dicetak oleh penerbit buku-buku agama dan keberadaannya tersebar di kota-kota kecil”.

Periode Keempat Komik Indonesia: 1994 – 2019

Barulah pada periode tahun 1993, Hikmat mengatakan, “Ada kesadaran untuk mengatakan ‘ini’ komik underground, Indonesian Comic Underground, saya mengukurnya ketika itu ada event di Ancol, anak-anak muda berlatar belakang Institut Seni membuat acara mengenai Komik Underground dan sebetulnya dari tahun 1993 sampai saat ini kalau mau dibagi menjadi dua periode baru lagi bisa, tapi saya tetap mencatatkannya ini adalah periode keempat, tapi ada sub periode fotokopian dan sub periode digital yang eksis saat ini”.

Sub Periode Komik Fotokopi Indonesia

Hikmat Darmawan memaparkan fenomena Komik Fotokopi menjadi spirit awal berkembangnya komik digital saat ini. “Komik digital lahir dari spirit Do it yourself (DIY) di tahun 1993-1994 yang awalnya hadir di kota-kota seperti Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Di Yogya jelas yang paling berpengaruh adalah orang-orang yang pernah atau sedang belajar seni di ISI ketika itu, mulai dari Athonk Sapto Raharjo, Ade Darmawan, Taring Padi, sampai Beng Rahadian sebagai lapis muda. Di Bandung ada gerakan juga, tapi lebih banyak gerakan aspirasinya sebetulnya mainstream, pengen bikin komik kaya Amerika dan Eropa yang diwakili salah satunya oleh Anto Motulz. Di jakarta hampir seperti itu juga, ada anak-anak IKJ yang gak melulu isinya ingin total seni, banyak juga yang menjadikan mainstream sebagai impian, senang dengan komik Jepang, Amerika, dsb.”

Pada pertengahan tahun 1990-an kemunculan komik-komik independen (lokal) menawarkan tampilan yang berbeda, gaya gambar lebih variatif dan eksperimental. Komikus-komikus indie ini mengandalkan mesin fotokopi untuk menggandakan karya mereka. Sistem distribusi kebanyakan dilakukan di acara-acara pameran komik, baik dengan cara jual-beli ataupun sistem barter antarkomikus. Tidak jarang juga ada komikus yang menghalalkan karyanya untuk diperbanyak dan disebarluaskan, dengan motto copyleft (antitesis dari copyright).

Kategori komik indie dilabelkan pada komik-komik dari cara penerbitan, ada jenis komik yang dikategorikan berdasarkan tema yang diangkat. Komik-komik ini dikenal dengan sebutan Komik Underground (bawah tanah). Umumnya, komik-komik ini bertemakan isu-isu personal, sara, bahkan yang relatif tabu dalam masyarakat seperti seks, kekerasan berlebihan, politis, dan masih banyak lagi. Kebanyakan Komik Underground akan mengikuti pola penerbitan indie label atau self publishing, tanpa melibatkan penerbit besar (major label) di jalur mainstream. (Imansyah Lubis, “Komik Fotokopian Indonesia 1998 – 2001”, Makalah Program Magister Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung)

Sub Periode Komik Digital

Hikmat mengatakan, “Periode Komik Fotokopian terus berkembang sampai tahun 2008 – 2010, tapi makin lama mulai di tahun 2005 perkembangan teknologi internet dan digital semakin memudahkan, yang serba digital ini baik digital making, digital printing, digital distribution, full blown setelah 2010. Digitalisasi kemudian mengambil alih pasar atau paling tidak perhatian orang terhadap komik Indonesia. Melalui media sosial, lahir kelompok-kelompok komikus yang sangat eksis di media ini kemudian melebar menjadi sosok-sosok sukses di dunia cetak”.

 

Era DIY dan Komik Digital/Lutfi Dananjaya

Hikmat melanjutkan, “Paling tidak itu yang terjadi pada komik si Juki karangan Faza Meonk, dia di awal-awal making money-nya masih dari cetak, tapi popularitasnya terangkat melalui media sosial. Beda dengan Tahilalats yang sepenuhnya lahir dan besar di media sosial. Komik Juki paling tidak di awal-awal karir masih mengandalkan best seller buku dan itu sangat best seller. Kekuatan Si Juki gak melulu menyajikan cerita jadi kadang-kadang menerangkan ide dia tentang kehidupan.”

Kemunculan Komikus Perempuan

Kemunculan komikus perempuan, menurut Hikmat, pertama-tama ditandai dengan bertambah banyaknya minat pembaca Shouju Manga (yang mayoritas remaja perempuan) pada tahun 1990-an yang beranjak dewasa dan mulai membuat komik. “Awalnya seperti itu, sampai datang Dwininta Larasati dari Belanda. Dia mengenalkan banyak hal yang baru seperti personal stories, everyday life dengan pendekatan yang non manga. Tita menyebutnya curhat, curhat Tita, sebenarnya personal storytelling tentang kehidupan sehari-hari. Tita kemudian cukup membuka jalan bagi banyak komikus seperti Lala (Sheila Rooswhita Putri) yang mengawali karya komiknya juga dengan curhat. Curhat Lala, keseharian yang disajikan lebih ringan dan lebih ceria”, tambah Hikmat.

Hikmat menambahkan, kehadiran Tita juga menandai awal publikasi rutin komik di digital, di internet. Ketika itu Multiply jadi media untuk menerbitkan komiknya Tita dan ada juga beberapa komikus lainnya.

Masa Depan Komik Indonesia

Pada saat yang sama ada Deviant Art yang menjadi salah satu media talent scouting komik Indonesia. Deviant Art salah satu media yang mengantarkan penerbit asing seperti DC, Marvel dan Image Comics mengenali karya komikus Indonesia pada awal hingga pertengahan 2000-an sampai sekarang.

“Ada lagi yang saat ini berkembang, model Content Businees yang membuat komik hingga membuat Universe dan Karakter yang didaftarkan Haki. Kemudian monetize dari alih wahana untuk jadi film, dll. Itu yang terjadi pada Bumi Langit, dengan karakter Gundalanya yang dijadikan film”, papar Hikmat.

Bagaimana perkembangan selanjutnya, banyak orang yang menaruh harapan besar pada film Gundala untuk kebangkitan komik superhero, kebangkitan film superhero dan kebangkitan komik Indonesia.

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published.