fbpx
Pramoedya di Era Paska Kemerdekaan Republik Indonesia

Pramoedya di Era Paska Kemerdekaan Republik Indonesia

Pramoedya Ananta Toer/Dokumentasi PDS H.B. Jassin

Sembari belajar, Pram masih tetap menjadi juru ketik di kantor berita. Kariernya tidak mengalami kemajuan dikarenakan tidak memiliki ijazah sekolah menengah. Akhirnya ia meninggalkan tugasnya tanpa seizin Jepang.

Karena hal ini, Jepang menganggapnya bersalah dan ini harus ditebus oleh nyawa. Untuk menghindari kejaran Jepang, Pram melarikan diri ke Blora kemudian ke Kediri, tepatnya di Desa Ngadiluwih.

Saat pelarian ini ia dikejutkan oleh berita proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta.

Setelah mendengar berita itu Pram bertolak ke kampung halamannya untuk bertemu adiknya dan kemudian kembali ke Jakarta, bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air).

Pada Oktober 1945, Pram menggabungkan diri dengan dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Teruna yang kemudian menjadi inti divisi Siliwangi, sebagai prajurit II dan dalam waktu cepat meningkat menjadi sersan mayor, tapi dalam dua tahun (1 Januari 1947), ia memilih berhenti jadi tentara.

Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer mengisahkan selepas memilih berhenti jadi tentara Pram masih tinggal di Cikampek menunggu gaji yang telah 7 bulan tidak dibayarkan. Tanpa uang Pram menuju ke Jakarta dalam keadaan kelaparan, dan melompat dalam kereta api tanpa karcis.

Pada bulan yang sama (Januari 1947) Pram bekerja pada The Voice of Free Indonesia sebagai redaktur bagi penerbitan Indonesia, beberapa bulan kemudian Pram mendapat tugas memimpin, menggantikan pimpinan sebelumnya yang ditangkap oleh NICA karena terlibat dalam gerakan bawah tanah.

Pada masa ini, di tahun 2017 Pram menyusun Ditepi Kali Bekasi diterbitkan oleh penerbitan The Voice of Free Indonesia. Pada masa yang sama Pram berkenalan dengan H.B. Jassin, redaktur majalah Pantja Raja, yang menerbitkan dua cerpen Pram dengan judul Kemana? dan Si Pandir.

 

Lahirnya Karya Perburuan dan Keluarga Gerilya

Kebebasan yang diperoleh Pram, tidak berlangsung lama. Pada 21 Juli di tahun yang sama (2017), Belanda mulai melakukan agresi militer pertama. Pramoedya dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, Teeuw, mengisahkan dirinya mendapat order dari atasannya untuk mencetak dan menyebarkan pamflet-pamflet dan majalah perlawanan. Dua hari kemudian Pram ditangkap oleh marinir Belanda.

Penangkapan ini jadi yang pertama kali bagi Pram. Pengalaman di dalam penjara yang dialami Pram bermacam-macam. Mulai dari dijatuhi siksaan yang keras akibat menolak kerja paksa hingga mengalami rezim di dalam penjara yang amat bengis. Tetapi pengalaman positif juga dialami Pram ketika dirinya mulai berkenalan dengan Profesor Mr. G.J. Resink, guru besar hukum tata Negara pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia (pada masa itu berada di bawah pemerintah Hindia Belanda).

Perkenalan dengan Resink berkembang menjadi persahabatan seumur hidup; jilid pertama Karya Tetralogi Buru, Bumi Manusia, dipersembahkan kepada ‘Han’, yaitu Resink

Selama dalam penjara, Pram menuliskan dua roman berjudul Perburuan dan Keluarga Gerilja, keduanya terbit pada 1950. Karya lainnya berupa roman terjemahan karya John Steinbeck, Of Mice and Men yang diterjemahkan Pram dengan judul Tikus dan Manusia, yang terbit pada 1950. (Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, Teeuw)

Artikel terkait Pramoedya Ananta Toer Lainnya

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Leave a Reply

Your email address will not be published.