fbpx
Sepenggal Catatan Berkesenian #DiRumahAja

Sepenggal Catatan Berkesenian #DiRumahAja

Ketika covid-19 merebak di Wuhan, Cina, rasanya sebagian besar orang Indonesia masih belum panik. Santai aja, bro, masih jauh! Festival, konser, dan pertunjukan kesenian masih berlangsung dengan gegap gempita di mana-mana. Aiko juga masih sempat menjadi pembicara di sebuah event seminar Rumah Mentor Indonesia, satu panggung dengan Kuntoro Mangkusubroto, berbagi pengalaman mengelola dance company di Indonesia. Saya sendiri juga masih disibukkan dengan berbagai tugas sebagai ‘pelaksana tugas’ Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, sambil membuat koreografi-koreografi dan mengajar rutin di EKI Dance Company.

Panggung di gedung kesenian secara artistik memang bisa memberikan pengalaman menonton yang tiada duanya. Namun, ketika panggung live tidak bisa berfungsi, panggung virtual pun muncul.

Ketika pada awal Maret 2020 mulai terdengar ada pasien positif covid di Indonesia, kita mulai khawatir. Berbagai kegiatanpun ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. EKI juga mengalami hal yang sama. Biasanya, jadwal EKI sangat padat hingga kami kewalahan mengatur jadwal persiapannya. Tiba-tiba saja, papan tulis agenda bulanan di kantor EKI ramai dengan tulisan: CANCEL. Semua job mendadak di-cancel.

Pemerintah kemudian mengimbau semua aktivitas dilakukan di rumah saja. Mulailah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia kesenian: #konserdirumahaja,  #nontonteaterdirumahaja,  #musikaldirumahaja dan lain-lain. Webinar pun menjamur di mana-mana.

Mati Satu Panggung, Tumbuh Seribu Panggung

Hingga tulisan ini dibuat, kita memang masih belum bisa pentas live di atas panggung. Gedung kesenian kosong, bioskop masih ditutup di ibukota. Kesempatan ini membuat kami merenungkan apa yang hilang dan apa yang muncul di dunia kesenian dalam situasi pandemi seperti ini.

Panggung di gedung kesenian secara artistik memang bisa memberikan pengalaman menonton yang tiada duanya. Namun, ketika panggung live tidak bisa berfungsi, panggung virtual pun muncul.

Tentu ada plus-minusnya. Salah satu keuntungannya, penonton tidak perlu bermacet ria untuk sampai ke gedung pertunjukan. Hanya perlu gadget dan sinyal yang baik, penonton sudah bisa menonton dengan nyaman. Tontonan virtual juga memberikan view yang sama bagi semua penonton, tidak tergantung letak kursi.

Sayangnya, kita tidak akan tahu ekspresi jujur penonton karena tidak bisa mendengar tawa dan tepuk tangan mereka. Namun, yang jelas, ketika mereka tidak suka, mereka bisa langsung menekan tanda silang di layar mereka dan meninggalkan pertunjukan tanpa sungkan. Ini bedanya dengan menonton live di gedung pertunjukan.

Pada awal pandemi, muncul gerakan-gerakan solidaritas untuk membantu seniman yang terdampak pandemi ini. Saya dan teman-teman di Indonesia Dance Network (IDN) juga memanfaatkan panggung virtual untuk membuat gerakan Saweran Online. Seniman tari dari berbagai genre di seluruh Indonesia bisa mengirimkan video karya tarinya kepada IDN. Kami hanya memberikan kurasi teknis saja agar videonya layak tayang, dalam arti, gambarnya cukup terang, suara musiknya jelas, dan lain-lain. Selebihnya, penonton dari seluruh dunia yang bebas menilai. Kalau mereka suka, mereka bisa ikut berdonasi berapa pun juga. Hasilnya lumayan untuk membantu para seniman tari di masa pandemi. Mereka pun menjadi tetap bergairah karena bisa berkarya di masa sulit ini.

Kolaborasi di Panggung Virtual

Seperti halnya di panggung live, menyuguhkan kesenian di panggung virtual juga membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak. Pengalaman ini saya rasakan juga ketika membuat Lutung Kasarung #MusikalDiRumahAja, bersama Nia Dinata, Oni Krisnerwinto, Bella Panggabean, Gede Juliantara, dan lain-lain. Proyek ini bisa terlaksana berkat inisiatif dari Bayu Pontiagus, produser dari BOOW Live, dan Renitasari dari Indonesia Kaya.

Memasangkan seorang sutradara teater dan seorang sutradara film merupakan ide yang brilian. Sutradara teater memiliki pengalaman bagaimana menghidupkan panggung musikal. Seorang sutradara film mahir membuat adegan-adegan film. Maka film musikal adalah kolaborasi yang selaras antara kemahiran dua bidang seni tersebut, ditambah lagi kolaborasi dengan DOP, penata cahaya, penata suara, pembuat set dan properti, dan lain-lain.

Kolaborasi ini membuahkan hasil yang manis. Lutung Kasarung ditonton lebih dari 500.000 viewers hanya dalam waktu seminggu. Meraup penonton sebanyak ini, jika dengan pementasan panggung, membutuhkan waktu pentas ratusan hari. Sebagai perbandingan, kapasitas Gedung Kesenian Jakarta sekitar 500 kursi, GBB TIM sekitar 1600 kursi dan Teater Jakarta 1200 kursi. Kita juga menyuguhkan english subtitle pada film musikal yang ditampilkan, sehingga bisa menjangkau penonton dari seluruh dunia.

Dunia Seni Setelah Pandemi

Pengalaman berkesenian di panggung virtual selama masa pandemi telah membuat saya dan Aiko banyak belajar. Kami berpikir, inilah masa depan dunia seni pertunjukan, meski pandemi sudah selesai. Pertunjukan panggung pasti akan hadir lagi, tapi pertunjukan di panggung virtual juga tidak akan hilang.

Kolaborasi tetap diperlukan. Sukses di panggung live, bukan berarti pasti sukses di panggung virtual, dan juga sebaliknya. Meski ada juga yang sukses di keduanya. Kita bisa mencontoh musical Chicago. Pertunjukan panggungnya sukses, filmnya juga sukses. Namun, penyesuaian dari panggung ke film sangat dahsyat. Highlight dari pertunjukan panggung berbeda dengan versi filmnya tetapi dua-duanya menarik. Sedangkan Phantom of The Opera, menurut saya, jauh lebih bagus versi panggungnya dari versi filmnya.

Kembali lagi soal Lutung Kasarung #MusikalDiRumahAja, boleh dikatakan film musikalnya sukses. Lalu, banyak yang menanyakan apakah nanti akan ada versi panggungnya? Apakah akan diproduksi film panjangnya?  Apapun kelanjutannya, semuanya membutuhkan penyesuaian besar-besaran. Semuanya membutuhkan kolaborasi agar bisa sukses seperti versi film pendek musikalnya.

Pengalaman berkesenian selama bertahun-tahun membuat saya yakin bahwa musikal adalah masa depan seni teater. Bukan berarti tidak ada lagi teater-tari, drama, pantomim, dan lain-lain. Semua ini tetap akan ada. Namun, musikal adalah sebuah tontonan yang bisa menjangkau penonton dalam jumlah besar dan bisa menghibur, memberikan inspirasi bagi peradaban manusia dalam skala besar.

Musikal juga memberikan ruang yang luas bagi seniman dari berbagai bidang untuk berkolaborasi tanpa kehilangan jati dirinya. Kejayaan musikal mungkin bisa menyamai pencapaian sendratari, wayang orang, drama-tari Bali, langen driyan, dan lain-lain. Jadi, tanpa sedikit pun keraguan saya bisa mengatakan bahwa modern musical is the future of Indonesian theatre.

Dan, mari kita sambut bersama kejayaan dunia seni Indonesia di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.