fbpx
SAPARDI TENTANG CHAIRIL – (Bagian 2)

SAPARDI TENTANG CHAIRIL – (Bagian 2)

Foto Chairil Anwar tahun 1949 - Dokumentasi PDS HB Jassin

Juga sulit membayangkan Chairil Anwar mengenakan jas dan dasi, masuk kantor pukul 8 pagi dan pulang kerja pukul 4 sore, membawa anak-istrinya berakhir minggu di Puncak atau menguangkan cek di sebuah bank asing. Gambaran tentang Chairil yang sampai sekarang masih tersimpan baik-baik di benak kebanyakan kita adalah bahwa hidupnya “tidak karuan”, tampangnya kotor, sikapnya seenaknya, dan senantiasa dalam keadaan kekurangan uang –oleh karenanya kurus. Dan penyakitan. Gambaran itu akhirnya menjadi semaam gambaran “resmi” tentang penyair –bahkan seniman—di Indonesia.

Jelas, Chairil Anwar bukan penyair pertama kita. Sebelum Perang Dunia II, Pujangga Baru telah melahirkan beberapa penyair yang juga pantas mendapat tempat dalam perkembangan sastra Indonesia modern. Namun, tidak ada seorang pun di antara mereka itu yang sampai kini tetap dikenang sebagai gambaran seniman Indonesia. Keunggulan Chairil Anwar mungkin terletak pada kenyataan bahwa ia telah menghasilkan sajak-sajak yang revolusioner dalam bentuk isi; dengan kata lain, ia telah memberontak terhadap nilai-nilai lama. Tampang sebagai pemberontak itulah yang telah menggaris bawahi gambaran kita tentangnya.

Meskipun demikian, sebenarnya Chairil bukanlah orang pertama yang berusaha menolak ukuran dan aturan lama dalam persajakan kita. Roestam Effendi telah melakukan kegiatan politik, suka berorganisasi, dan berhasil menjadi anggota sebuah lembaga negara di Negeri Belanda. Tentunya ia tidak asing dengan jas dan dasi, di samping upacara-upacara resmi. Seorang penyair Pujangga Baru lain, Amir Hamzah, juga tidak pernah kita kenang sebagah “binatang jalang”. Ia seorang pangeran, bersekolah baik-baik, “bersi” dan penurut. Kematiannya jelas lebih dramatis dari kematian Chairil Anwar. Pangeran yang penyair itu terbunuh dalam sebauh peristiwa pada masa revolusi fisik di Sumatera Utara. Namun kematian dramatis itu tidak pernah membuatnya menjadi gambaran seniman Indonesia modern.

Perbedaan nyata antara Chairil Anwar dan penyair-penyair zaman sebelumnya adalah bahwa pelopor Angkatan ’45 itu tumbuh di zaman yang paling gegap gempita yang pernah dirasakan secara bersama-sama oleh seluruh bangsa Indonesia. Masa pergolakan politik sebelum Perang Dunia II tentu terasa sebagai “zaman tenang” dibandikan dengan masa pendudukan Jeang dan tahun-tahun pertama Kemerdekaan. Beberapa sastrawan Pujangga Baru berhasil menjadi orang-orang penting dalam kegiatan politik dan kebudayaan di mana Chairil hidup, dan mereka pun masuk dalam buku sejarah sebagai tokoh-tokoh yang sibuk menghadiri pelbagai rapat dan perundingan, dunia yang mungkin sama sekali tidak dikenal Chairil Anwar. Dalam kesusasteraan, nama mereka itu menadi samar-samar di samping Chairil Anwar.

Zaman Jepang dan tahun-tahun pertama Kemerdekaan merpakan masa yang hiruk pikuk, semrawut, “kotor” dan “kekurangan uang”. Dan Chairil Anwar berhasil menjalani masa itu sebagai “binatang jalang”. Apabila kita menafsirkan sajak “Aku” sebagai ungkapan pribadi penyair, kita harusm engakui bahwa Chairil Anwar ternyata lebih “jalang” dari zamannya. Bahkan oleh orang-orang sesamanya, Chairil dianggap eksentrik, lebih ganjil dari zamannya.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Leave a Reply

Your email address will not be published.