fbpx
SAPARDI TENTANG CHAIRIL – (Bagian 3)

SAPARDI TENTANG CHAIRIL – (Bagian 3)

Lukisan Chairil Anwar oleh Mochtar Apin - Dokumentasi PDS HB Jassin

Kalau sekarang (1984) kita memperingati hari kematiannya, tentu bukan karena hidup hidupnya yang “jalang”. Kita memeringati kelahiran atau kematian seseorang biasanya karena orang itu dianggap sebagai tokoh yang bisa memberi teladan bagi kebanyakan kita. Tentu bukan maksud penyairi itu untuk menganjurkan hidup tidak keruan, serba kekurangan, jorok dan “jalang”. Kita yang memperingatinya pun tetnu tidak bermaksud meniru kehidupan semacam itu.

Kita memperingati Chairil Anwar karena penyair itu telah memberikan jasa besar bagi perkembangan sastra Indonesia modern. Dan jasa itu tidak dihasilkan oleh hidupnya yang tak keruan dan serba kekurangan, seperti yang biasa kita gambarkan, tetapi oleh ketekunan dan kesetiaannya dalam bidang yang ia cintai. Chairil Anwar tidak pernah bersikap seenaknya terhadap keseniannya; ia seorang yang tekun belajar dan membuat serangkaian percobaan. Ia seorang yang senantiasa berusaha memperkaya dirinya dengan pelbagai hal yang dianggapnya bisa meningkatkan mutu keseniannya. Ia meperdalam pengalamannya, memperluas pengetahuannya, ia mempercerdas pemikirannya.

Ketekunan dan kesungguhan yang tercermin dalam kebanyakan sajaknya, yang tentu boleh dijadikan teladan para penyair dan seniman umumnya, yang menjadi bahan telaah siapa pun yangberminat mengungkapkan nilai-nilai kemanuasiaan yang ada di dalamnya. Sebagai akhir kata, baik kita baca bersama salah satu sajaknya, “Kabar dari Laut”, sebuah sajak yang semangatnya berbeda dari “Aku”, yang menunjukkan usaha penyair membuat percobaan dengan suatu bentuk sajak asing –salah satu bukti luasnya pengetahuan penyair itu.

KABAR DARI LAUT

Aku memang benar-benar tolol ketika itu,

mau pula membikin hubungan dengan kau.

Pula kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu

berujuk kembali dengan tujuan biru.

 

Di tubuhku ada luka sekarang,

bertambah lebar juga, mengeluarkan darah,

di bekas dulu kau cium napsu dan garang;

lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.

 

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.

Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang.

Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

 

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji.

Atau di antara mereka juga terdampar

burung mati pagi hari di sisi sangkar.

 

Sapardi Djoko Damono

1984

dari arsip Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Leave a Reply

Your email address will not be published.